5 Jenderal Islam Terhebat dan Paling Tangguh Dalam Sejarah

5 min


1
1 point

Ketika masa-masa awal Islam muncul, memang banyak sekali tantangan dan rintangan yang harus dihadapi oleh Rasulullah dan para sahabat dalam berdakwah dan menyebarkan Islam.

Penolakan hingga ancaman adalah hal yang sering terjadi ketika dakwah penyebaran Islam dilakukan. Bahkan, tak jarang pula hal itu berubah menjadi peperangan karena adanya ancaman dari orang-orang yang tidak suka kepada Islam.

Namun meski banyak ancaman, tantangan dan rintangan menghadang, dakwah Islam yang diperjuangkan oleh para sahabat tidak pernah padam demi menegakkan agama Allah.

Bahkan karena itu juga, sehingga pada masa itu muncul para jenderal-jenderal dan panglima perang Islam terhebat dan paling tangguh yang hingga sekarang bisa kita kenal melalui sejarah.

Dari sekian banyak para panglima dan jenderal perang Islam paling tangguh yang pernah ada, berikut ini Makintau akan memberikan lima daftar jenderal dan panglima perang Islam yang dikenal paling tangguh dan terhebat sepanjang sejarah.

1. Khalid bin Walid

Khalid bin Walid

Khalid bin Walid adalah salah satu sahabat Rasulullah yang dikenal memiliki strategi dan taktik militer yang cerdik dan hebat. Karena itulah, ia menjadi salah satu panglima perang Islam paling tangguh dalam sejarah Islam dan tak pernah kalah dalam setiap pertempuran.

Karena kehebatannya itu, Khalid bin Walid bahkan memiliki julukan yaitu Saiful Allah al Maslul yang artinya adalah Pedang Allah yang terhunus.

Khalid bin Walid juga memimpin pasukan Madinah dibawah kekuasaan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, dan juga penerusnya seperti Abu Bakar dan Umar Bin Khattab.

Sebelum masuk Islam, Khalid adalah seorang panglima perang kaum kafir Quraisy yang berhasil mengalahkan kaum Muslimin ketika perang Uhud terjadi.

Kemudian, Khalid memutuskan untuk masuk Islam ketika masa-masa gencatan senjata yang disepakati dalam perjanjian Hudaibiyah. Keislamannya diikuti pula oleh Amr bin Al Ash dan Usman bin Talhah pada tahun ke 8 hijriyah.

Setelah masuk Islam, kehebatan Khalid sebagai panglima dan mengatur strategi militer semakin menakjubkan. Ada banyak sekali prestasi serta pencapaian strategis Khalid bin Walid selama menjadi jenderal Islam.

Beberapa diantaranya adalah melawan kaum murtadin dalam perang Riddah, menaklukan Arab bagian tengah dan suku-suku Arab. Beliau ra. juga berhasil menaklukkan kerajaan Al-Hirah yang bersekutu dengan Kerajaan Persia Sasani serta mengalahkan pasukan Persia Sasani ini dalam penaklukan Iraq.

Bizantium dan para sekutunya juga pernah merasakan kekalahan ketika melawan pasukan Muslimin pada perang Yarmuk, pada perang itu Khalid bin Walid memimpin 40.000 pasukan muslimin. Dan musuh yang mereka hadapi adalah pasukan gabungan Armenia, Slavia, Ghassanid dan juga pasukan Romawi Timur berjumlah 150.000.

Dalam perang itu, kaum Muslimin menang telak dan berhasil merebut Palestina, Suriah dan Mesopotamia dari Kekaisaran Romawi Timur.

2. Salahuddin Al Ayyubi

Ilustrasi Perang Salib
Ilustrasi Perang Salib

Dunia mengenal Salahuddin Al Ayyubi sebagai salah satu kesatria Islam yang tangguh, pemberani sekaligus murah hati. Ia lahir di Tikrit pada tahun 1137 atau 1138, salah satu kisah yang terkenal dari Salahuddin Al Ayyubi adalah ketika ia berhasil kembali menaklukkan Yerusalem ketika Perang Salib.

Ketika Yerusalem kembali direbut, tak seorang pun penduduk non-Muslim yang dibunuh. Malah pada keesokan harinya, Salahudin telah mengizinkan penganut agama lainnya untuk beribadah di tempat-tempat suci agama masing-masing di Yerusalem.

Salahudin juga tak menyakiti satu pun tawanan dan melepaskan semua tentara kristen yang mau kembali ke Eropa. Karena sifat itulah, Salahuddin al Ayyubi dikenal sebagai sosok kesatria yang pemberani dan tangguh di kalangan Islam, sekaligus dikenal sebagai kesatria yang penuh toleransi, pengampun dan welas asih di kalangan Kristen.

3. Muhammad Al Fatih

Muhammad Al Fatih

Muhammad Al Fatih dikenal juga sebagai Mehmed II, adalah seorang panglima dan jenderal Islam yang dikenal dengan julukan sang penakluk.

Muhammad Al Fatih adalah sultan kerajaan Ottoman yang berhasil menaklukkan Konstantinopel. Usianya baru 21 tahun saat memimpin pengepungan ke kota Konstantinopel. Kunci kesuksesan Mehmed II adalah pada meriam-meriam raksasa yang mampu menjebol benteng kota yang tebal.

Selain itu, Muhammad Al Fatih juga berhasil mengakhiri masa kejayaan kerajaan Bizantium sekaligus berhasil memperluas wilayahnya hingga Anatolia dan Bosnia. Kecerdasan dan kepemimpinannya dikatakan lebih maju dari zamannya.

4. Thariq bin Ziyad

Thariq bin Ziyad

Thariq bin Ziyad adalah seorang jenderal perang kaum muslimin yang bertugas pada masa pemerintahan dinasti Umayyah. Dia adalah pahlawan Islam yang ikut terlibat dalam pembebasan wilayah Andalusia pada tahun 711 M.

Beliau memiliki jasa yang sangat besar dalam penyebaran agama Islam terutama pada wilayah Andalusia. Inilah salah satu jenderal tangguh dalam sejarah Islam di masa lalu yang masih di kenang hingga sekarang.

Beliau memimpin pasukan besar menyeberangi lautan untuk menuju ke kerajaan yang dipimpin oleh Raja Roderick. Sesampainya di sana, kapal-kapal pasukan Muslimin diperintahkan untuk dibakar oleh Thariq bin Ziyad sehingga tidak ada jalan untuk melarikan diri selain bertempur habis-habisan melawan musuh sampai meraih kemenangan atau mati sebagai syuhada. Thariq bin Ziyad merupakan sosok pahlawan yang mampu membawa kejayaan Islam di masanya.

Tariq dan pasukannya maju merebut satu demi satu kota dari kerajaan Visigoth. Raja Roderick tewas dalam sebuah pertempuran dan kemenangan jatuh pada pasukan Muslim. Tariq kemudian diangkat menjadi Gubernur Andalusia sebelum kelak dipanggil pulang ke negerinya.

5. Abu Ubaidah Bin Al-Jarrah

Abu Ubaidah Bin Al-Jarrah

Abu Ubaidah bin al-Jarrah adalah Muhajirin dari kaum Quraisy Mekkah yang termasuk antara yang paling awal memeluk agama Islam. Ia masuk Islam atas ajakan dari Abu Bakar Ash-Siddiq, sehari setelah Abu Bakar memeluk Islam.

Waktu menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, dia bersama-sama dengan Abdurrahman bin Auf, Utsman bin Mazh’un dan Arqam bin Abi Arqam untuk mengucapkan syahadat di hadapan beliau. Oleh sebab itu, mereka tercatat sebagai pilar pertama dalam pembangunan mahligai Islam yang agung dan indah.

Dalam kehidupannya sebagai Muslim, Abu Ubaidah mengalami masa penindasan yang kejam dari kaum Quraiys di Makkah sejak permulaan sampai akhir. Dia turut menderita bersama kaum Muslimin lainnya. Walau demikian, ia tetap teguh menerima segala macam cobaan, tetap setia membela Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam tiap situasi dan kondisi apa pun.

Abu Ubaidah selalu mengikuti Rasulullah berperang dalam tiap peperangan yang beliau pimpin, hingga beliau wafat. Setelah Rasulullah wafat, Abu Ubaidah sempat menjadi salah satu calon khalifah bersama dengan Abu Bakar dan Umar bin Khattab.

Dalam musyawarah pemilihan khalifah yang pertama (Al-Yaum Ats-Tsaqifah), Umar bin Al-Khathab mengulurkan tangannya kepada Abu Ubaidah seraya berkata, “Aku memilihmu dan bersumpah setia, karena aku pernah mendengar Rasulullah bersabda, ‘Sesungguhnya tiap-tiap umat mempunyai orang kepercayaan. Dan orang paling dipercaya dari umat ini adalah engkau.”

Abu Ubaidah menjawab, “Aku tidak mau mendahului orang yang pernah disuruh Rasulullah untuk mengimami kita shalat sewaktu beliau hidup, yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq. Walaupun sekarang beliau telah wafat, marilah kita imamkan juga dia.”

Akhirnya mereka sepakat untuk memilih Abu Bakar menjadi khalifah pertama, sedangkan Abu Ubaidah diangkat menjadi penasihat dan pembantu utama khalifah.

Setelah Abu Bakar wafat, jabatan khalifah pindah ke tangan Umar bin Al-Khathab. Abu Ubaidah selalu dekat dengan Umar dan tidak pernah menolak perintahnya. Pada masa pemerintahan Umar, Abu Ubaidah memimpin tentara Muslimin menaklukkan wilayah Syam (Suriah).

Dia berhasil memperoleh kemenangan berturut-turut, sehingga seluruh wilayah Syam takluk di bawah kekuasaan Islam, dari tepi sungai Furat di sebelah timur hingga Asia kecil di sebelah utara.

Abu Ubaidah meninggal dunia karena terkena penyakit menular yang mewabah di Syam. Menjelang wafatnya, ia berwasiat kepada seluruh prajuritnya,

“Aku berwasiat kepada kalian. Jika wasiat ini kalian terima dan laksanakan, kalian tidak akan sesat dari jalan yang baik, dan senantiasa dalam keadaan bahagia. Tetaplah kalian menegakkan shalat, berpuasa Ramadhan, membayar zakat, dan menunaikan haji dan umrah. Hendaklah kalian saling menasihati sesama kalian, nasihati pemerintah kalian, dan jangan biarkan mereka tersesat. Dan janganlah kalian tergoda oleh dunia. Walaupun seseorang berusia panjang hingga seribu tahun, dia pasti akan menjumpai kematian seperti yang kalian saksikan ini.”

Kemudian dia menoleh kepada Mu’adz bin Jabal, “Wahai Muadz, sekarang kau yang menjadi imam (panglima)!”

Tak lama kemudian, ruhnya meninggalkan jasad untuk menjumpai Tuhannya.


Like it? Share with your friends!

1
1 point

What's Your Reaction?

Bangga Bangga
0
Bangga
Keren Keren
1
Keren
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Wow Wow
0
Wow
Marah Marah
0
Marah
Takut Takut
0
Takut

Legend

Comments

comments

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format