Perisai Bumi adalah Langit Sebagai Atap yang Terpelihara


0

Bumi adalah rumah yang nyaman dan aman bagi semua makhluk hidup, dibandingkan dengan planet lain bumi lebih memiliki unsur-unsur yang seimbang sehingga kehidupan bisa berlangsung disini.

Selain itu, bumi kita juga memiliki sistem pertahanan atau perisai yang mampu melindungi bumi dari berbagai macam ancaman yang datang dari antariksa. Biasanya ancaman tersebut berupa partikel elektron yang sangat berbahaya dan mampu mengancam kelangsungan hidup masyarakat bumi.

Perisai Bumi adalah Langit Sebagai Atap yang Terpelihara
Image: © NASA

Perisai tersebut adalah langit yang berfungsi sebagai atap bumi. Allah, dalam firman-Nya telah menerangkan kepada manusia,

“Dan Kami menjadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara, sedang mereka berpaling dari segala tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang terdapat padanya.” [QS. Al-Anbya’ ayat 32]

Firman Allah tersebut ternyata dibuktikan oleh hasil penelitian modern yang baru-baru ini dilakukan.

Tim ilmuwan baru saja menemukan perisai bumi yang tidak kasatmata yang berada sekitar 11.587 kilometer dari permukaan bumi. Perisai tersebut berfungsi sebagai pelindung dari ancaman badai partikel antariksa.

Partikel tersebut melaju dengan kecepatan yang sangat tinggi bahkan hampir setara dengan kecepatan cahaya, dan itu sangat berbahaya bagi astronot dan satelit yang berada di luar angkasa selama badai matahari berlangsung.

Perisai bumi melindungi dari serangan partikel elektron ultrafast dan bergerak lebih mendalam ke atmosfer bumi. Menurut Prof Baker, hal ini hampir seperti tesis elektron yang bergerak menuju ke dinding kaca ruang angkasa, lebih mirip perisai yang terbuat dari gaya medan magnet sehingga tak terlihat ketika menghalangi partikel elektron tersebut.

Tim ilmuwan dari University of Colorado Boulder menjelaskan secara rinci hasil analisis mereka dalam jurnal Nature yang terbit pada edisi 27 November 2014.

Pada sabuk radiasi Van Allen, perisai bumi selama ini telah menjadi penghalang pergerakan partikel elektron. Dua cincin berbentuk donat berada diatas bumi dipenuhi elektron dan proton berenergi tinggi, hal ini terlihat ketika sabuk radiasi bumi secara berkala membengkak dan menyusut dalam menanggapi gangguan energi yang berasal dari matahari.

Sabuk radiasi Van Allen ditemukan pada tahun 1958 oleh Profesor James Van Allen dan tim ilmuwan dari University of Iowa, dimana sabuk ini meluas hingga 25000 mil diatas permukaan bumi.

Pada tahun 2013, Professor Daniel Baker memimpin sebuah tim yang menggunakan Twin Van Allen Probe, satelit yang diluncurkan NASA pada tahun 2012, mereka berhasil menemukan cincin yang berada diantara sabuk radiasi bagian dalam dan luar.

Ilmuwan yang terlibat pada awalnya mengira partikel elektron bermuatan tinggi secara berulang menghantam sekitar Bumi lebih dari 100,000 mil perdetik.

Partikel ini secara perlahan melayang ke bawah dan bagian atas atmosfer, dan secara bertahap menghilang akibat berinteraksi dengan molekul udara, tapi penghalang tak terlihat melalui satelit sama sekali.

Beberapa skenario mungkin saja bisa menciptakan dan mempertahankan perisai bumi seperti itu, ilmuwan berupaya membuka misteri kemungkinan hubungan dengan garis-garis medan magnet bumi.

Medan magnet ini umumnya menangkal sekaligus mengendalikan proton dan elektron dengan cara memantulkannya diantara kutub bumi. Mereka juga menduga, apakah sinyal radio yang berasal dari pemancar di Bumi bisa menghambat partikel elektron dan mencegah pergerakannya ke permukaan bumi.

Namun Prof Baker menuturkan bahwa alam membenci gradien yang kuat dan umumnya menemukan cara untuk memperlancar pergerakan keluar. Beberapa partikel elektron relativistik bergerak ke dalam dan luar, walaupun tidak jelas pergerakannya lambat atau tidak, tetapi proses bertahap dalam gerakan partikel elektron dapat menciptakan batas tertentu di ruang angkasa.

Selama ini diketahui bahwa awan raksasa dingin atau gas bermuatan listrik yang disebut Plasmasphere, berada disekitar 600 mil diatas permukaan Bumi dan membentang ribuan mil ke luar sabuk Van Allen.

Partikel elektron berada dibatas perisai bumi dengan frekuensi rendah, gelombang elektromagnetik menciptakan desis Plasmapheric yang terdengar seperti ‘White Noise’ ketika terdengar melalui speaker.

Baker mengatakan, bahwa desis Plasmaspheric mungkin memainkan peran pada perisai Bumi, menurutnya masih banyak misteri yang belum terungkap. Untuk menjaga dan mengamati wilayah bisa dilakukan dengan bantuan instrumen saterlit Van Allen.

Jika matahari meledakan magnetosfer bumi melalui Coronal Mass Ejection (CME), mungkin akan menghancurkan perisai bumi dalam jangka waktu tertentu.


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

Bangga Bangga
0
Bangga
Keren Keren
0
Keren
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Wow Wow
0
Wow
Marah Marah
0
Marah
Takut Takut
0
Takut

Legend

Pecinta ayam goreng, tempe penyet dan klepon.

Comments

comments

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format