Kisah Memilukan Anak-Anak Aleppo yang Harus Bertahan Hidup di Tengah Peperangan

Bantu kami membuat situs ini menjadi lebih baik.

Dengan menonaktifkan AdBlock atau aplikasi-aplikasi sejenis yang mampu memblokir iklan, kamu sudah membantu kami untuk tetap membuat konten-konten di website ini terus update.

Untuk selengkapnya, baca artikel kami berikut ini: Suka Artikel Kami? Tolong Matikan AdBlock Anda Untuk Makintau

Konflik di Suriah belum berakhir, konflik yang terjadi antara pihak yang pro pemerintah yang bekerja sama dengan Iran dan Rusia melawan para militan itu menyisakan luka yang amat mendalam bagi dunia.

Aleppo yang menjadi salah satu kota terbesar di Suriah ini juga tak luput dari serangan kedua belah pihak yang tengah berperang. Akibatnya, tak terhitung orang-orang yang menjadi korban dan tewas akibat peperangan ini.

Ditengah mencekamnya kota Aleppo yang tengah menjadi arena pertempuran itu, ada banyak anak-anak tak berdosa yang berada di sana dan harus berjuang mempertahankan hidup mereka di tengah mengerikannya peperangan.

Mungkin saja anak-anak Aleppo sudah terbiasa dengan keadaan ini. Suara-suara bom, pesawat tempur dan desingan peluru mungkin sudah akrab dengan telinga mereka.

Dalam foto-foto yang dilansir dari BBC ini mungkin bisa menjadi salah satu bukti betapa memilukannya kehidupan anak-anak di Suriah, terutama di Aleppo.

Salah satu sudut kota Aleppo yang hancur lebur akibat perang sengit selama beberapa bulan, Selasa 13 Desember, setelah Rusia menyatakan pasukan pemerintah Suriah yang mereka dukung sudah menguasai Aleppo sepenuhnya.
Foto oleh EPA

Selongsong roket di Masjid Umayyad, yang terletak di kawasan yang dikuasai pemerintah Suriah di Aleppo, menjadi bukti bahwa perang berlangsung di semua tempat.
Foto oleh REUTERS

Namun tiga orang anak ini tetap mampu bertahan di wilayah yang dikuasai pemberontak di Aleppo, yang menjadi sasaran serangan pasukan pemerintah dengan dukungan serangan udara Rusia.
Foto oleh REUTERS

Dua orang remaja di kawasan al-Shaar, Aleppo, sepertinya tidak menghadapi 'masalah' di antara bangunan yang sudah rusak berat karena perang.
Foto oleh REUTERS

Sejumlah warga mengungsi dari kawasan yang dikuasai pemberontak menuju tempat yang sudah direbut kembali oleh pasukan pemerintah Suriah, Selasa 13 Desember.
Foto oleh AFP

Salah seorang anak laki-laki di Aleppo dari sejumlah anak di Suriah yang layak untuk meraih predikat 'memiliki daya tahan terkuat di dunia'.
Foto oleh AFP

Dua orang anak mengambil persediaan makanan dari sebuah gudang milik kelompok pemberontak di kawasan al-Kalasseh, Aleppo, yang berhasil direbut kembali oleh pasukan pemerintah Suriah.
Foto oleh AFP

Seorang anak yang sakit dengan tabung infus-nya digendong untuk ikut mengungsi ke kawasan lain di Aleppo yang diperkirakan akan lebih aman.
Foto oleh REUTERS

Sementara anak laki-laki ini ikut membantu upaya pengungsian ke tempat yang aman sebagai antisipasi atas serangan akhir dari pasukan pemerintah Suriah untuk merebut wilayah yang masih dikuasai kelompok pemberontak.
Foto oleh AFP

Aleppo kini dilaporkan telah dikuasai oleh pihak pro pemerintah. Namun dalam pertempuran ketika perebutan wilayah itu dilaporkan telah menewaskan puluhan warga sipil tak berdosa.

Mereka dibantai di dalam rumah seperti yang dilansir dari Aljazeera berdasarkan sumber dari PBB. Mereka dihabisi begitu saja tanpa sebab agar Aleppo bisa dikuasai dengan mutlak.

Setelah Rusia dan pasukan pro pemerintah berhasil mengambil alih Aleppo dari para militan, warga diminta untuk pergi dari Aleppo agar wilayah itu bisa disterilkan.

Fakta menunjukkan bahwa sebanyak 82 warga sipil termasuk 13 anak-anak dan 11 wanita tewas di tempat. Menurut PBB dan Amerika Serikat, Pemerintah Suriah dan sekutunya, Rusia dan Iran, merupakan pihak yang bertanggung jawab atas kekejaman yang terjadi di Aleppo.

Namun, Rusia membantah tudingan itu dengan mengatakan bahwa aksi militer sudah berhenti disana. Kini hanya ada puing-puing bangunan yang rusak akibat perang yang mengerikan itu.

Jurnalis BBC, Jeremy Bowen, mengatakan akan ada perang dalam bentuk berbeda, yakni lebih banyak serangan 'hit and run' dan pemberontakan.