CEO Suzuki, Osamu Suzuki Mengundurkan Diri

Bantu kami membuat situs ini menjadi lebih baik.

Dengan menonaktifkan AdBlock atau aplikasi-aplikasi sejenis yang mampu memblokir iklan, kamu sudah membantu kami untuk tetap membuat konten-konten di website ini terus update.

Untuk selengkapnya, baca artikel kami berikut ini: Suka Artikel Kami? Tolong Matikan AdBlock Anda Untuk Makintau

Aparat pajak Jepang menemukan data-data kalau pabrikan Suzuki menggunakan bisnis balapan motor untuk menyembunyikan penghasilan sebesar 300 juta yen selama 2 tahun.

Atas kecurangan itu, detikoOto lansir dari The Japan Times, Suzuki harus membayar sekitar 450 juta yen termasuk denda. Otoritas Jepang juga menemukan Suzuki tidak menyatakan dana sekitar 1,2 miliar yen karena kesalahan akuntansi.

CEO Suzuki, Osamu Suzuki Mengundurkan Diri

"Ada miskomunikasi dalam perusahaan kami dan kami juga tidak memiliki pengetahuan yang cukup mengenai urusan pajak. Meski ada perbedaan pendapat (dengan otoritas pajak) kami mengisi laporan yang benar dan membayar denda," ujar salah satu perwakilan resmi dari Suzuki menanggapi investigasi yang dilaporkan The Japan Times.

Dari hasil investigasi ditemukan Suzuki menutupi pendapatan sekitar 300 juta yen dengan memperlakukan suku cadang bekas untuk motor yang digunakan di balapan sebagai biaya dan bukan sebagai inventori, Suzuki 'berpura-pura' menggunakan komponen bekas itu.

Dalam aturan pajak di Jepang, komponen yang tidak digunakan harus dianggap sebagai inventori dan tidak bisa digunakan sebagai biaya, kecuali kalau komponen itu digunakan.

Kabar ini merupakan langkah mundur bagi Suzuki, setelah pada Mei lalu, Suzuki mengaku menggunakan metode yang dilarang dalam mengetes konsumsi bahan bakar pada 16 jenis mobil di Jepang.

Suzuki mengatakan hal tersebut merupakan kesalahan yang tidak disengaja yang dilakukan oleh teknisinya saat mengevaluasi ketahanan putaran dan ketahanan udara. Lokasi yang berangin pada saat pengetesan dilakukan juga dinilai Suzuki sebagai faktor yang memicu pengetesan tersebut.

Skandal keekonomisan bahan bakar ini membuat CEO Suzuki Osamu mengundurkan diri setelah 40 tahun memimpin. Selain itu jajaran eksekutif Suzuki mengembalikan bonus yang mereka terima untuk tahun 2015 dan deretan manajemen senior mengurangi bonus mereka setengahnya.

Sebelum skandal ini muncul, di awal 2016 lalu beredar rumor Suzuki akan bekerja sama dengan Toyota untuk mengambil alih Daihatsu, namun rencana tersebut nampaknya belum akan terwujud. (detikcom)