Dikritik PBB Karena Tembak Mati Penjahat, Duterte: 'Gak Usah Ikut Campur!'

Bantu kami membuat situs ini menjadi lebih baik.

Dengan menonaktifkan AdBlock atau aplikasi-aplikasi sejenis yang mampu memblokir iklan, kamu sudah membantu kami untuk tetap membuat konten-konten di website ini terus update.

Untuk selengkapnya, baca artikel kami berikut ini: Suka Artikel Kami? Tolong Matikan AdBlock Anda Untuk Makintau

Presiden Filipina Rodrigo Duterte menyebut kritikan PBB terhadap kebijakan kontroversialnya menembak mati penjahat sebagai kritikan bodoh. Duterte memperingatkan organisasi dunia itu untuk tidak ikut campur.

Sejauh ini, dilaporkan 1.000 orang tewas di Filipina akibat kebijakan kontroversial Duterte itu. Dalam pernyataannya, Duterte kembali menegaskan, dirinya akan terus melanjutkan kebijakan kontroversialnya meskipun dihujani banyak kritikan, termasuk oleh Sekjen PBB Ban Ki-moon. Kebijakan Duterte itu diutamakan bagi penjahat narkoba di Filipina.

Dikritik PBB Karena Hukum Mati Penjahat, Duterte: 'Gak Usah Ikut Campur!'

"Mengapa PBB dengan mudahnya mencampuri urusan republik ini," Hanya ada 1.000 (yang tewas)," ucap Duterte saat berbicara dalam perayaan 115 tahun satuan kepolisian Filipina, seperti dilansir AFP, Kamis (18/8/2016).

Pada Juni lalu, Sekjen PBB Ban mengecam dukungan Duterte untuk pembunuhan di luar hukum. Ban menyebutnya sebagai tindakan ilegal dan melanggar hak serta kebebasan fundamental. Kantor antinarkoba PBB juga bulan ini, menyampaikan kekhawatiran besar atas praktik pembunuhan di luar hukum terhadap para pengedar dan pengguna narkoba di Filipina.

Atas berbagai kecaman dan kritikan itu, Duterte menyebutnya sebagai: "Usulan yang sangat bodoh."

Duterte meminta PBB untuk tidak mencampuri urusan politik Filipina. "Apa masalahnya? Anda mencampuri politik. Hanya 1.000 tewas dan Anda menempatkan negara saya dalam bahaya," tutur Duterte.

Lebih lanjut, Duterte juga meminta organisasi HAM asing untuk tidak menyelidiki dirinya dan pemerintahannya seperti pelaku kriminal. Dia juga memperingatakan, bahwa mereka tidak akan diperlakukan dengan baik di Filipina.

Duterte yang menjabat Presiden Filipina sejak 30 Juni lalu, memerintahkan peperangan berdarah terhadap para pelaku kriminal. Televisi terbesar di Filipina, ABS-CBN menyebut sedikitnya 1.054 orang tewas dalam peperangan terhadap pelaku kriminal itu.

Dalam kampanye dan saat menang pemilu, Duterte berjanji untuk menumpas kejahatan narkoba dan kejahatan lain. Dia bahkan memerintahkan para polisi untuk tidak ragu membunuh para pelaku kriminal, serta mendorong warga sipil untuk ikut serta. (detikcom)