Benarkah Harga Rokok Naik Jadi Rp. 50.000 per Bungkus?

Bantu kami membuat situs ini menjadi lebih baik.

Dengan menonaktifkan AdBlock atau aplikasi-aplikasi sejenis yang mampu memblokir iklan, kamu sudah membantu kami untuk tetap membuat konten-konten di website ini terus update.

Untuk selengkapnya, baca artikel kami berikut ini: Suka Artikel Kami? Tolong Matikan AdBlock Anda Untuk Makintau

Akhir-akhir ini banyak yang membicarakan tentang rencana kenaikan harga rokok, banyak orang yang membicarakan rencana kenaikan harga rokok ini baik di BBM, Facebook, Twitter dan media-media sosial lainnya.

Tidak tanggung-tanggung, kabarnya harga rokok akan naik menjadi Rp. 50.000/bungkus. Sejak usulan ini muncul, banyak sekali orang yang mendukung usulan ini, namun tak sedikit pula yang menolak dengan berbagai alasan.

Benarkah Harga Rokok Naik Jadi Rp. 50.000 per Bungkus?

Kabar ini memang hanya baru sebatas wacana saja, namun hal ini kemungkinan besar juga bisa terjadi mengingat banyak yang mendukung jika pemerintah melakukan kebijakan ini sebagai salah satu cara untuk mengurangi jumlah perokok di Indonesia.

Sebelumnya, perlu kita ketahui bahwa di beberapa negara lain juga menjadikan rokok sebagai barang mewah sebagai upaya pemerintah setempat dalam memerangi rokok.

Contoh di Selandia Baru, disana pemerintah menaikkan harga rokok dan menjadikannya barang mewah. Harga rokok disana memang sengaja dibuat selangit agar konsumen rokok berkurang. Perlu diketahui bahwa rokok paling murah disana dijual dengan harga 14,7 dollar atau seharga Rp 191.000 per bungkus.

Dan ternyata cara ini memang efektif, banyak penduduk yang berhenti merokok dengan alasan harga beli yang mahal tersebut. Kemudian di Norwegia, sebenarnya disana bukan masyarakat yang kecanduan rokok seperti Indonesia. Namun karena takut bila rokok menjadi murah dan banyak warga yang mencoba dan ketagihan, pemerintah Norwegia mematok harga Rokok degan harga tinggi.

Negara yang hanya berpenduduk sekitar 5 juta jiwa itu menjual rokok dengan harga paling murah pada kisaran 14,5 dollar atau sekitar Rp 188.500 per bungkus. Bahkan pemerintah tak segan-segan untuk menjatuhkan denda sebesar 5,5 ribu dollar atau setara 75 juta pada akhir tahun kepada warganya yang terbukti menghabiskan rokok lebih dari satu bungkus per hari.

Namun di Indonesia sendiri, kenaikan harga rokok menjadi Rp. 50.000 ini hanya baru sebatas rencana saja. Selain itu, masih banyak juga yang pro dan kontra dengan wacana kebijakan kenaikan harga rokok ini.

Pemerintah mengaku bahwa mereka mendengar usulan kenaikan harga rokok tersebut, Oleh karena itu, pemerintah akan mengkaji penyesuaian tarif cukai rokok sebagai salah satu instrumen harga rokok.

Seperti yang kita ketahui, jumlah perokok di Indonesia sudah sangat memprihatinkan. Bukan lagi hanya orang dewasa saja, namun anak-anak remaja dan sekolah pun kini banyak yang menjadi perokok.

Banyak yang menduga penyebabnya adalah karena harga rokok di Indonesia yang selama ini berada di bawah Rp. 20.000 per bungkus.

Pemerintah sendiri mengatakan bahwa cukai rokok selalu ditinjau ulang setiap tahun. Sejumlah indikator menjadi pertimbangan, yakni kondisi ekonomi, permintaan rokok, dan perkembangan industri rokok.

Dan sementara itu, ketua DPR Ade Komarudin setuju dengan wacana kenaikan harga rokok yang rencananya akan naik hingga Rp 50.000 per bungkus. Karena hal itu bisa juga menjadi salah satu cara untuk menekan jumlah perokok di Indonesia agar bisa berkurang.