Tuntunan Lengkap Pelaksanaan Hari Raya Idul Fitri

Bantu kami membuat situs ini menjadi lebih baik.

Dengan menonaktifkan AdBlock atau aplikasi-aplikasi sejenis yang mampu memblokir iklan, kamu sudah membantu kami untuk tetap membuat konten-konten di website ini terus update.

Untuk selengkapnya, baca artikel kami berikut ini: Suka Artikel Kami? Tolong Matikan AdBlock Anda Untuk Makintau

Bulan Ramadhan akan segera berakhir, sehingga tidak lama lagi umat Islam akan menyambut hari kemenangan setelah melewati ujian menahan hawa dan nafsu selama 1 bulan penuh di bulan Ramadhan.

Idul Fitri merupakan hari yang istimewa bagi umat Islam yang telah ditetapkan Allah setelah berakhirnya bulan Ramadhan. Dinamakan Idul Fitri karena pada hari itu orang-orang Islam yang menjalankan puasa Ramadlan berbuka dan tidak lagi berpuasa seperti hari-hari sebelumnya selama bulan Ramadhan.

Tuntunan Lengkap Pelaksanaan Hari Raya Idul Fitri

Hari Idul Fitri ini dirayakan dengan melakukan shalat Idul Fitri secara berjamaah. Ibadah ini disyariatkan pada tahun pertama Nabi saw sampai di Madinah. Dari sini pula maka menjadi kurang tepat kalau memaknai Idul Fitri hanya sebagai hari kembali suci (fitroh). Secara bahasa antara fitri dan fitroh itu berbeda karena itu maka disebutlah sebagai Idul Fitri bukan Idul Fitroh.

Baik pada hari raya Idul Fitri, maupun hari raya Idul Adha, umat Islam disunnahkan untuk melakukan shalat hari raya. Hal tersebut dijelaskan oleh banyak hadis Nabi, diantaranya adalah hadis Nabi berikut ini:

Dari Ibnu Umar, ia berkata: "Rasulullah saw., Abu Bakar, Umar melakukan shalat dua hari raya sebelum khutbah dilaksanakan." [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Adapun hal-hal yang disunnahkan untuk dilakukan dalam pelaksanaan hari raya Idul Fitri adalah sebagai berikut:

Memperbanyak Takbir

Memperbanyak takbir adalah salah satu hal yang disunnahkan ketika menyambut hari raya Idul Fitri. Di Indonesia, tradisi ini disebut dengan istilah 'Takbiran' dan biasanya dimulai sejak terbenam matahari (waktu maghrib) hingga matahari terbit pada 1 Syawal.

Allah SWT berfirman:

"… Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur." [QS. Al-Baqarah ayat 185]

Dalam sebuah hadits juga diterangkan:

"Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam biasa keluar hendak shalat pada hari raya 'Idul Fitri, lantas beliau bertakbir sampai di lapangan dan sampai shalat hendak dilaksanakan. Ketika shalat hendak dilaksanakan, beliau berhenti dari bertakbir." [HR Ibnu Syaibah]

Ibnu 'Umar meriwayatkan, ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah berangkat shalat 'ied (Idul Fithri dan Idul Adha) bersama Al Fadhl bin Abbas, Abdullah bin Abbas, Ali, Ja'far, Al Hasan, Al Husain, Usamah bin Zaid, Zaid bin Haritsah, dan Ayman bin Ummi Ayman, mereka mengangkat suara membaca tahlil (laa ilaha illallah) dan takbir (Allahu Akbar)." [HR. Al Baihaqi]

Lafadz takbir yang di ucapkan ketika takbiran adalah sebagai berikut:

اَللهُ كْبَرُ،اَللهُ أًكْبَرُ لاَإِلَهَ إِلاَّ اَللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ أَللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّه اْلحَمْدُ

Artinya: "Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Tiada Tuhan melainkan Allah dan Allah Maha Besar, Allah Maha Besar dan bagi Allah-lah segala puji."

Mandi Sebelum Shalat Id

Salah satu hal yang dianjurkan ketika hendak melakukan Idul Fitri adalah mandi.

Ibnul Qayyim mengatakan, "Terdapat riwayat yang shahih yang menceritakan bahwa Ibnu 'Umar yang dikenal sangat mencontoh ajaran Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam biasa mandi pada hari 'ied sebelum berangkat shalat." [Zaadul Ma’ad fii Hadyi Khoiril 'Ibad]

Memakai Wangi-Wangian dan Pakaian Terbaik

Orang yang menghadiri shalat Idul Fitri baik laki-laki maupun perempuan dituntunkan agar berpenampilan rapi, yaitu dengan berhias, memakai pakaian bagus (tidak harus mahal, yang penting rapi dan bersih) dan wangi-wangian sewajarnya.

Diriwayatkan dari Ja'far bin Muhammad dari ayahnya dari kakeknya, bahwa "Nabi saw selalu memakai wool (Burda) bercorak (buatan Yaman) pada setiap 'Id" [HR. Asy-Syafi'i dalam kitabnya Musnad asy-Syafi'i]

Diriwayatkan dari Zaid bin al-Hasan bin Ali dari ayahnya ia mengatakan: "kami diperintahkan oleh Rasulullah saw pada dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha) untuk memakai pakaian kami terbaik yang ada, memakai wangi-wangian terbaik yang ada, dan menyembelih binatang kurban tergemuk yang ada (sapi untuk tujuh orang dan unta untuk sepuluh orang) dan supaya kami menampakkan keagungan Allah, ketenangan dan kekhidmatan." [HR. Al-Hakim]

Makan Sebelum Berangkat Shalat Idul Fitri

Diriwayatkan dari Anas bin Malik ia berkata: "adalah Rasulullah saw tidak pergi ke shalat Idul Fitri sebelum beliau makan beberapa kurma." [HR. Al-Bukhari]

Diriwayatkan dari Abdullah bin Buraidah dari ayahnya (yaitu Buraidah bin al-Husaib) ia berkata: "Rasulullah saw pada hari Idul Fitri tidak keluar sebelum makan, dan pada hari Idul Adha tidak makan sehingga selesai shalat." [HR. At-Tirmizi]

Dianjurkan Berangkat dengan Berjalan Kaki dan Pulang Melalui Jalan Lain

Dari Ibnu 'Umar, beliau mengatakan, artinya: Dari Ali r.a. (diriwayatkan bahwa) ia berkata: "Termasuk sunnah Nabi, pergi ke tempat shalat 'Id dengan berjalan kaki dan makan sedikit sebelum keluar." [HR at- Tirmidzi]

Dalam riwayat lain disebutkan:

"Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berangkat shalat 'ied dengan berjalan kaki, begitu pula ketika pulang dengan berjalan kaki." [HR. Ibnu Majah]

Dari Abu Hurairah r.a, beliau mengatakan, artinya: "Rasulullah saw apabila keluar ke tempat shalat dua Hari Raya, pulangnya selalu mengambil jalan lain dari ketika beliau keluar." [HR. Ahmad dan Muslim]

Pelaksanaan Shalat Idul Fitri Dihadiri oleh Semua Umat Islam

Idul Fitri merupakan peristiwa penting dan hari besar Islam yang penuh berkah dan kegembiraan. Oleh karena itu, pelaksanaan shalat ini dihadiri oleh semua orang Muslim, baik tua, muda, dewasa, anak-anak,laki-laki dan perempuan, bahkan perempuan yang sedang haid, juga diperintahkan oleh Nabi saw supaya hadir, hanya saja mereka tidak ikut shalat dan tidak masuk ke dalam shaf shalat, namun ikut mendengarkan pesan-pesan Idul Fitri yang disampaikan oleh khatib.

Diriwayatkan dari Ummu Athiyah al-Anshariyah ia berkata: "Rasulullah saw memerintahkan kami untuk menyertakan gadis remaja, wanita yang sedang haid, dan wanita pingitan. Adapun wanita yang sedang haid supaya tidak memasuki lapangan tempat shalat, tetapi menyaksikan kebaikan hari raya dan dakwah yang disampaikan khatib bersama kaum muslimin." [HR. Ahmad]

Tata Cara Shalat 'Idul Fitri

1. Sebelum shalat Id dimulai dan sesudahnya tidak ada tuntunan mengerjakan shalat sunnah qobliyah 'ied dan sunnah ba'diyah 'ied.

Dari Ibnu 'Abbas, ia berkata,

Artinya: "Dari Ibnu Abbas (diriwayatkan) bahwasanya Rasulullah saw pada hari Idul Adha atau Idul Fitri keluar, lalu shalat dua rakaat, dan tidak mengerjakan shalat apapun sebelum maupun sesudahnya. [Ditakhrijkan oleh tujuh ahli hadis].

2. Untuk menyerukan dimulai shalat tidak dituntunkan mengumandangkan adzan dan iqomah ataupun bacaan-bacaan lain seperti ashshalatu jami'ah.

Dari Jabir bin Samuroh, ia berkata,

"Aku pernah melaksanakan shalat 'ied (Idul Fithri dan Idul Adha) bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bukan hanya sekali atau dua kali, ketika itu tidak ada adzan maupun iqomah." [HR. Muslim]

3. Shalat Idul Fitri dikerjakan secara berjama‘ah di tanah lapang. Jumlah rakaat shalat Idul Fitri adalah dua rakaat, dengan tujuh kali takbir setelah takbiratul ihram pada rakaat pertama, dan lima kali takbir pada rakaat kedua. Dasar-dasarnya adalah:

Artinya: "Dari Abu Sa‘id al-Khudri (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Nabi Muhammad saw selalu keluar pada hari Idul Fitri dan hari Idul Adlha menuju lapangan, lalu hal pertama yang ia lakukan adalah shalat …" [HR. Al-Bukhari].

Artinya: "Dari Aisyah (diriwayatkan bahwa) Rasulullah saw pada shalat dua hari raya bertakbir tujuh kali dan lima kali sebelum membaca (al- Fatihah dan surat)." [HR Ahmad].

Di antara takbir-takbir tersebut (takbir zawa-id) tidak ada bacaan dzikir tertentu.

4. Surat yang dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam adalah surat Qaaf pada raka’at pertama dan surat Al Qomar pada rakaat kedua. Ada riwayat bahwa 'Umar bin Al Khattab pernah menanyakan pada Waqid Al Laitsiy mengenai surat apa yang dibaca oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ketika shalat 'Idul Adha dan 'Idul Fithri. Ia pun menjawab:

"Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam biasa membaca "Qaaf, wal qur’anil majiid" (surat Qaaf) dan "Iqtarobatis saa’atu wan syaqqol qomar" (surat Al Qomar)." [HR. Muslim]

Boleh juga membaca surat Al A'laa pada raka’at pertama dan surat Al Ghosiyah pada raka’at kedua. Dan jika hari 'ied jatuh pada hari Jum'at, dianjurkan pula membaca surat Al A'laa pada raka'at pertama dan surat Al Ghosiyah pada raka'at kedua, pada shalat 'ied maupun shalat Jum'at. Dari An Nu'man bin Basyir, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca dalam shalat ‘ied maupun shalat Jum’at "Sabbihisma robbikal a'laa" (surat Al A'laa) dan "Hal ataka haditsul ghosiyah" (surat Al Ghosiyah)." An Nu'man bin Basyir mengatakan begitu pula ketika hari ‘ied bertepatan dengan hari Jum'at, beliau membaca kedua surat tersebut di masing-masing shalat." [HR. Muslim]

5. Sehabis shalat, hendaklah dilakukan Khutbah Idul Fitri sebanyak satu kali; dimulai dengan bacaan hamdalah. Dasarnya adalah:

Artinya: "Dari Abu Sa'id al-Khudri (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Rasulullah saw keluar pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adlha menuju lapangan tempat shalat, maka hal pertama yang dia lakukan adalah shalat, kemudian manakala selesai beliau berdiri menghadap orang banyak yang tetap duduk dalam saf-saf mereka, lalu Nabi saw menyampaikan nasehat dan pesan-pesan dan perintah kepada mereka; lalu jika beliau hendak memberangkatkan angkatan perang atau hendak memerintahkan sesuatu beliau laksanakan, kemudialalu beliau pulang." [HR. Muttafaq 'Alaih].

"Diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud ra, ia berkata bahwa Rasulullah saw jika memulai khutbah dengan mengucapkan 'al-hamdulillah' …". [HR. Abu Dawud].

"Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, ia berkata: Rasulullah saw bersabda: Setiap pidato yang tidak dimulai dengan ‘al-hamdulillah’, maka tidak barakah." [HR. Abu Dawud].

Sedangkan orang yang memulai khutbah dengan takbir didasarkan kepada Hadits yang berbunyi:

Artinya: "Diriwayatkan dari Abdullah Ibnu Abdullah Ibnu 'Utbah ia berkata: Merupakan sebuah sunnah Nabi membuka khutbah dengan tujuh takbir secara pelan-pelan dan yang kedua dengan sembilan takbir secara pelan-pelan." [HR. Al-Baihaqi].

Hadits di atas tidak bisa dijadikan dalil (tidak maqbul) karena termasuk hadits maqtu' (terputus). Disebabkan Abdullah Ibnu Abdullah adalah seorang tabi'in, dan berdasarkan ushulul-hadits ia tidak dapat diterima kalau ia mengatakan 'sebagai suatu sunnah Nabi'. Demikian dikatakan oleh Asy-Syaukani dalam Nailul-Authar Juz III halaman. Dalam hal ini dengan tegas Ibnul-Qayyim mengatakan bahwa memulai khutbah Idain (Fithri dan Adlha) dengan takbir, sama sekali tidak ada sunnah yang dapat dijadikan dasarnya. Sebaliknya yang disunnahkan adalah memulai segala macam khutbah dengan 'al-hamdu'

6. Pada Hari raya idul fitri dianjurkan saling mendo’akan antara sesama kaum muslimin dengan mengucapkan kalimah "taqabbalallahu minna wa minkum" (mudah-mudahan Allah menerima amal kami dan amal kamu). Hal ini didasarkan pada Hadits berikut ini:

Diriwayatkan dari Khalid bin Ma'dan, ia berkata: "Aku bertemu dengan Watsilah bin al-Asqo' pada hari raya, lalu aku berkata "taqabbalallahu minna wa minkum" (mudah-mudahan Allah menerima amal kami dan amal kamu). Dia menjawab: "Ya, taqabbalallahu minna wa minkum". Lalu ia berkata: "Aku pernah bertemu dengan Rasulullah saw pada hari raya lalu aku berkata "taqabbalallahu minna wa minkum", beliau menjawab "taqabbalallahu minna wa minkum". [HR al-Baihaqi].

Referensi:

1. Tim Sang Pencerah
2. Buku Tuntunan Shalat Idain Dan Qurban, Majlis Tarjih PP Muhammadiyah
3. Website Tuntunan Islam, Ustadz Zaini Munir Fadloli