Tata Cara Melakukan Shalat Gerhana

Bantu kami membuat situs ini menjadi lebih baik.

Dengan menonaktifkan AdBlock atau aplikasi-aplikasi sejenis yang mampu memblokir iklan, kamu sudah membantu kami untuk tetap membuat konten-konten di website ini terus update.

Untuk selengkapnya, baca artikel kami berikut ini: Suka Artikel Kami? Tolong Matikan AdBlock Anda Untuk Makintau

Gerhana merupakan sebuah fenomena alam yang langka dan jarang sekali terjadi. Gerhana sendiri terdapat dua macam yakni gerhana Matahari dan gerhana Bulan. Gerhana Matahari dapat terjadi pada saat posisi Bulan terletak di antara Bumi dan Matahari sehingga menutup sebagian atau seluruh cahaya Matahari.

Kemudian gerhana Bulan terjadi ketika sebagian atau keseluruhan penampang Bulan tertutup oleh bayangan Bumi. Itu terjadi bila Bumi berada di antara Matahari dan Bulan pada satu garis lurus yang sama, sehingga sinar Matahari tidak dapat mencapai Bulan karena terhalang oleh bumi.

Ketika terjadi gerhana, maka umat Islam di sunnahkan untuk melakukan shalat gerhana atau shalat khusuf. Anjuran untuk shalat khusuf pada saat gerhana ini juga diperkuat oleh hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim:

Tata Cara Melakukan Shalat Gerhana

"Pada shalat gerhana Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam menyaringkan bacaannya. Dan dikerjakannya empat kali ruku’ dalam dua raka'at serta empat kali sujud." [HR. Bukhari dan Muslim]

Kemudian dalam beberapa hadits lain juga disebutkan tentang shalat gerhana ini diantaranya:

"Dari al-Mughirah Ibn Syu'bah r.a. (diriwayatkan bahwa) ia berkata: "Terjadi gerhana matahari pada hari meninggalnya Ibrahim. Lalu ada orang yang mengatakan terjadinya gerhana itu karena meninggalnya Ibrahim." Maka Rasulullah saw bersabda: "Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua dari tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak gerhana karena mati atau hidupnya seseorang. Apabila kamu melihat hal itu, maka berdoalah kepada Allah dan kerjakan salat sampai matahari itu terang (selesai gerhana)" [HR. Bukhari].

"Dari Aisyah (diriwayatkan) bahwa pernah terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah saw, maka beliau lalu menyuruh orang menyerukan "ash-shalatu jami'ah". Kemudian beliau maju, lalu mengerjakan salat empat kali rukuk dalam dua rakaat dan empat kali sujud" [HR. Bukhari, Muslim dan Ahmad]

Tata Cara Shalat Gerhana

Para ulama bersepakat bahwa shalat gerhana dilakukan sebanyak dua rakaat. Namun tata cara shalat gerhana ini ada beberapa perbedaan pendapat dikalangan ulama, ada yang mengatakan bahwa shalat gerhana dilakukan sebagaimana shalat sunnah biasa, dengan dua raka'at dan setiap raka'at ada sekali ruku', dua kali sujud. Ada juga yang berpendapat bahwa shalat gerhana dilakukan dengan dua raka'at dan setiap raka'at ada dua kali ruku', dua kali sujud. Berdasarkan hadits, pendapat yang terakhir inilah yang paling kuat dasarnya sebagaimana bunyi hadits berikut:

"Aisyah menuturkan bahwa gerhana matahari pernah terjadi pada masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Lantas beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit dan mengimami manusia dan beliau memanjangkan berdiri. Kemuadian beliau ruku' dan memperpanjang ruku’nya. Kemudian beliau berdiri lagi dan memperpanjang berdiri tersebut namun lebih singkat dari berdiri yang sebelumnya. Kemudian beliau ruku’ kembali dan memperpanjang ruku’ tersebut namun lebih singkat dari ruku' yang sebelumnya. Kemudian beliau sujud dan memperpanjang sujud tersebut. Pada raka'at berikutnya beliau mengerjakannya seperti raka’at pertama. Lantas beliau beranjak (usai mengerjakan shalat tadi), sedangkan matahari telah nampak." [HR. Bukhari]

Dan berikut ini adalah tata cara shalat gerhana seperti yang Rasulullah kerjakan:

  1. Berniatlah di dalam hati.
  2. Melakukan takbiratul ikhram seperti shalat biasa.
  3. Membaca do'a iftitah dan berta'awudz, lalu dilanjutkan membaca surat Al-Fatihah dan surat-suratan yang panjang dengan suara yang dikeraskan.
  4. Ruku' dan memanjangkannya.
  5. Bangkit dari ruku' (i'tidal) sambil mengucapkan "SAMI'ALLAHU LIMAN HAMIDAH, RABBANA WA LAKAL HAMD".
  6. Setelah i'tidal ini tidak langsung sujud, namun dilanjutkan dengan membaca surat Al Fatihah dan surat yang panjang. Berdiri yang kedua ini lebih singkat dari yang pertama.
  7. Setelah i'tidal ini tidak langsung sujud, namun dilanjutkan dengan membaca surat Al Fatihah dan surat yang panjang. Berdiri yang kedua ini lebih singkat dari yang pertama.
  8. emudian bangkit dari ruku’ (i’tidal).
  9. Kemudian sujud yang panjangnya sebagaimana ruku’, lalu duduk di antara dua sujud kemudian sujud kembali.
  10. Kemudian bangkit dari sujud lalu mengerjakan raka’at kedua sebagaimana raka’at pertama hanya saja bacaan dan gerakan-gerakannya lebih singkat dari sebelumnya.
  11. Salam.
  12. Setelah itu imam menyampaikan khutbah kepada para jama'ah yang berisi anjuran untuk berdzikir, berdo'a, beristighfar, sedekah, dan membebaskan budak.

Kapan Melakukan Shalat Gerhana?

Shalat gerhana dilakukan ketika gerhana muncul hingga gerhana tersebut hilang. Sebagaimana hadits Rasulullah berikut ini:

"Matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Kedua gerhana tersebut tidak terjadi karena kematian atau lahirnya seseorang. Jika kalian melihat keduanya, berdo’alah pada Allah, lalu shalatlah hingga gerhana tersebut hilang (berakhir)." [HR. Bukhari dan Muslim]

Itulah tata cara melakukan shalat gerhana baik gerhana matahari maupun gerhana bulan, semoga bermanfaat.