Kisah Thariq bin Ziyad, Jenderal Islam yang Tangguh

Bantu kami membuat situs ini menjadi lebih baik.

Dengan menonaktifkan AdBlock atau aplikasi-aplikasi sejenis yang mampu memblokir iklan, kamu sudah membantu kami untuk tetap membuat konten-konten di website ini terus update.

Untuk selengkapnya, baca artikel kami berikut ini: Suka Artikel Kami? Tolong Matikan AdBlock Anda Untuk Makintau

Thariq bin Ziyad adalah seorang jenderal perang kaum muslimin yang bertugas pada masa pemerintahan dinasti Umayyah. Dia adalah pahlawan Islam yang ikut terlibat dalam pembebasan wilayah Andalusia pada tahun 711 M.

Beliau memiliki jasa yang sangat besar dalam penyebaran agama Islam terutama pada wilayah Andalusia. Inilah salah satu jenderal tangguh dalam sejarah Islam di masa lalu yang masih di kenang hingga sekarang, dan inilah kisah Thariq bin Ziyad dalam menaklukkan Andalusia.

Thariq bin Ziyad berasal dari bangsa Berber, beliau lahir pada tahun 670 M. Sejak lahir, ia hidup dalam keluarga Islam dan di didik secara Islam oleh keluarganya.

Kisah Thariq bin Ziyad, Jenderal Islam yang Tangguh
Wilayah Gibraltar

Pada awalnya, Thariq adalah seorang budak dan dibebaskan oleh Musa bin Nusayr yang kemudian mengangkatnya sebagai panglima perang. Sebelum umat Islam berhasil menaklukkan wilayah Andalusia, daratan Iberia dikuasai oleh seorang raja bernama Raja Roderick.

Penaklukan Andalusia oleh umat Islam dimulai ketika seorang penguasa Ceuta meminta bantuan kepada Musa bin Nusayr untuk membantu menyerang Raja Roderick yang saat itu telah menghamili putrinya yang cantik bernama Florinda.

Florinda di ancam oleh Roderick agar ia tak memberitahukan hal itu kepada siapapun, namun ia berhasil menyelundupkan sebuah surat keluar istana dan diterima oleh ayahnya, Julian.

Julian pada saat itu pun langsung marah besar dan bersumpah bahwa dirinya akan menghancurkan Roderick. Julian kemudian datang menuju Visigoth untuk mengamankan putrinya terlebih dahulu, pada saat itu ia beralasan bahwa istrinya sedang sakit keras dan berharap Florinda ada di samping ibunya untuk menjaganya, Roderick tanpa curiga akhirnya mempercayai Julian dan menyerahkan Forinda pada Julian.

Setelah putrinya aman, Julian bergegas menuju ke kediaman Musa bin Nusayr dan meminta bantuan untuk menyerang Visigoth. Namun Musa bin Nusayr menolak lantaran pada saat itu pasukan muslimin belum mengenal Semenanjung Iberia.

Namun, Julian terus mendesak Musa bin Nusayr untuk menyerang Visigoth. Karena terus di desak akhirnya ia meminta Julian untuk menyerang Semenanjung Iberia dengan pasukan kecil untuk menunjukkan keseriusannya.

Julian pun menuruti perintah Musa bin Nusayr dengan menyerang semenanjung Iberia dan berhasil membawa pulang harta rampasan perang dan ditunjukan kepada Musa bin Nusayr.

Musa bin Nusayr pun akhirnya percaya dengan kesungguhan Julian. Ia pun langsung mengirimkan surat kepada khalifah untuk meminta izin untuk menyerang Visigoth. Namun khalifah Al-Walid memerintahkan Musa bin Nusayr untuk terlebih dahulu mempelajari kekuatan Visigoth terlebih dahulu dengan mengirimkan pasukan kecil kesana.

Setelah mendapatkan izin dari khalifah, Musa bin Nusayr langsung mengirimkan 500 orang pasukan yang di pimpin oleh Tarif bin Malik. Tarif bin Malik pada saat itu tiba di bagian paling selatan Semenanjung Iberia yang sekarang dikenal dengan nama kota Tarifa yang berasal dari nama Tarif bin Malik.

Ia berhasil menyerang kota tersebut dan kemudian membawa harta rampasan perang yang banyak kepada Musa bin Nusayr. Setelah mempelajari kekuatan Visigoth, Musa bin Nusayr lalu menunjuk Thariq bin Ziyad untuk memimpin 7000 pasukan dalam serangan menuju Visigoth dalam rangka penaklukan wilayah Andalusia.

Pasukan umat Islam yang dipimpin oleh Thariq bin Ziyad mulai berangkat menuju Visigoth dengan dibantu oleh kapal Julian. Sesaat sebelum berlabuh, Thariq bin Ziyad memutuskan tidur sebentar. Lalu dalam tidurnya ia bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad yang dikelilingi orang-orang Muhajirin dan Anshar. Mereka membawa pedang yang terhunus. Lalu, Nabi Muhammad bersabda kepada Thariq:

Janganlah gentar, wahai Thariq. Sempurnakan apa yang ditakdirkan bagimu untuk melakukannya!

Thariq pun bangun dan menceritakan mimpinya tersebut kepada pasukannya yang membuat mereka bertambah yakin bahwa kemenangan telah berpihak kepada kaum muslimin.

Akhirnya Thariq tiba di semenanjung Iberia tepatnya di wilayah Calpe yang saat ini dikenal dengan nama Gibraltar. Setibanya disana, Thariq langsung disambut oleh pasukan Roderick yang berjumlah 70000 orang, Thariq kemudian mengutus pasukan untuk meminta bantuan kepada Musa bin Nusayr untuk menambah jumlah pasukannya.

Musa bin Nusayr kemudian menambahkan 5000 orang pasukan, namun pasukan kaum muslimin tidak sebanding dengan pasukan raja Roderick. Melihat pasukan Roderick semakin mendekat, pasukan Islam mulai merasa ketakutan. Namun, semangat Thariq bin Ziyad justru semakin membara. Ia kemudian berpidato kepada para pasukannya, isi pidatonya kemudian membangkitkan semangat jihad pasukan Islam. Isi pidato Thariq bin Ziyad ini sebagai berikut,

Wahai sekalian manusia, ke mana jalan pulang? Laut berada di belakang kalian, musuh di hadapan kalian. Sungguh keberadaan kalian di semenanjung ini lebih sempit daripada keberadaan anak yatim di tengah-tengah perjamuan orang-orang jahat. Sungguh kalian tidak memiliki apa-apa kecuali keikhlasan dan kesabaran. Musuh-musuh kalian sudah siaga, di depan dengan persenjataan mereka. Kekuatan mereka, besar sekali, sementara, kalian tidak memiliki bekal lain kecuali pedang-pedang kalian, dan tidak ada makanan bagi kalian kecuali yang dapat kalian rampas dari tangan musuh-musuh kalian. Sekiranya perang ini berkepanjangan, dan kalian tidak segera dapat mengatasinya, akan sirnalah kekuatan kalian. Ketakutan mereka terhadap kalian akan berubah menjadi keberadaan terhadap kalian.

Setelah itu, pasukan kaum muslimin kembali memiliki semangat untuk berperang. Dan akhirnya mereka berhadapan dengan pasukan Roderick di lembah Lakkah. Mereka terus berperang hingga akhirnya Roderick berhasil dibunuh.

Sedangkan menurut sejarah barat, kemenangan pasukan muslim dalam penaklukan Andalusia banyak dipengaruhi oleh semangat juang yang berhasil dikobarkan oleh Thariq dimana dia memerintahkan untuk membakar semua kapal sehingga tidak ada jalan untuk melarikan diri selain bertempur habis-habisan melawan musuh sampai meraih kemenangan atau mati sebagai syuhada. Thariq bin Ziyad merupakan sosok pahlawan yang mampu membawa kejayaan Islam di masanya.

Setelah berhasil memenangkan perang, Thariq bin Ziyad kemudian mengirimkan surat kepada Musa bin Nusayr. Kemudian Musa bin Nusayr menerima kabar kemenangan Thariq bin Ziyad, dan berangkat ke Andalusia untuk membantu Thariq dalam membebaskan wilayah-wilayah lain di Andalusia.

Hingga akhirna pasukan muslimin berhasil menguasai Barcelona, Arbunah (Narbonne), dan Cadiz. Setelah berhasil menguasai Andalusia Thariq bin Ziyab dan Musa bin Nusayr pun memimpin Andalusia dan menerapkan nilai-nilai Islam disana.

Para pemimpin yang sudah menandatangani perjanjian damai dengan pasukan Thariq wajib membayar pajak tahunan dan mengakui kekuatan kekhalifahan Islam. Sebagai imbalannya, mereka diizinkan memiliki pemerintahan yang independen. Mereka juga dilindungi seperti warga lainnya.

Sebagai penghormatan kepada Julian yang telah membantu pasukan muslimin, Musa bin Nusayr tetap membiarkan Julian untuk berkuasa di Ceuta. Sementara itu, anak-anak dari Witiza (mantan raja Spanyol yang di kudeta Roderick) yang ikut serta dalam membantu serangan pasukan muslimin pada Roderick juga mendapatkan hak mereka yang telah di janjikan sebelumnya yakni 3.000 peternakan dan 1.000 desa.

Setelah masa pemerintahan Islam di Andalusia, kehidupan disana menjadi semakin tentram dan damai. Toleransi beragama dijunjung tinggi antara umat Islam, Katolik, Kristen dan Yahudi. Namun sayangnya, akhir hayat dari Thariq bin Ziyad tidak diketahui dengan pasti, ada yang mengatakan bahwa ia meninggal di Damaskus pada tahun 720 M.