Beginilah Cara Menyikapi Ujian dan Cobaan Hidup

Bantu kami membuat situs ini menjadi lebih baik.

Dengan menonaktifkan AdBlock atau aplikasi-aplikasi sejenis yang mampu memblokir iklan, kamu sudah membantu kami untuk tetap membuat konten-konten di website ini terus update.

Untuk selengkapnya, baca artikel kami berikut ini: Suka Artikel Kami? Tolong Matikan AdBlock Anda Untuk Makintau

Dalam hidup pasti ada cobaan dan ujian yang selalu datang menghampiri kita. Namun, bentuk cobaan itu datang dengan cara yang berbeda-beda. Kebanyakan dari kita biasanya menganggap segala bentuk cobaan itu berbentuk musibah saja.

Tapi sebenarnya kenikmatan dan rizki juga merupakan salah satu dari sekian banyak bentuk cobaan yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya. Allah juga berfirman dalam sebuah ayat,

"Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya) dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan." [QS. Al-Anbya ayat 35]

Allah telah menegaskan kepada kita semua bahwa sesungguhnya ujian dan cobaan itu tidak hanya seputar hal-hal yang buruk dan tidak menyenangkan saja, justru kesenangan dan nikmat juga merupakan sebuah ujian yang tentu saja harus kita renungkan bersama.

Lalu bagaimana cara kita menyikapi berbagai macam bentuk ujian hidup?

Beginilah Cara Menyikapi Ujian dan Cobaan Hidup

Menyikapi Nikmat Sebagai Cobaan Hidup


Terkadang saat kita diberi nikmat oleh Allah, kita akan merasa sangat senang dan gembira. Kemudian kita menganggap bahwa Allah telah memuliakan kita dengan melapangkan rizki kita. Lalu, mari kita renungkan ayat berikut ini,

"Adapun manusia apabila Rabbnya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: 'Rabbku telah memuliakanku.' Adapun bila Rabbnya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: 'Rabbku menghinakanku.' Sekali-kali tidak (demikian)." [QS. Al-Fajr ayat 15-17]

Ayat diatas adalah sebagai pelajaran bagi kita, karena kebanyakan dari kita akan merasa sombong dan lalai ketika kita diberi nikmat oleh Allah. Padahal Allah sendiri mengatakan bahwa Dia juga menguji hamba-Nya dengan nikmat yang Dia berikan.

Ujian kenikmatan adalah ujian yang paling berat jika dibandingkan dengan ujian dalam bentuk musibah. Karena, ujian ini dapat melalaikan kita dan cenderung membuat kita sombong dan bahkan dapat menjadikan kita menjadi seorang yang kufur terhadap nikmat-Nya jika kita tidak bersyukur.

Sehingga, sikap terbaik ketika mendapat nikmat dari Allah SWT adalah dengan cara mensyukuri nikmat yang diberikan Allah kepada kita. Karena kita sebagai manusia memang dituntut untuk bersyukur terhadap segala sesuatu yang Allah berikan kepada kita.

Ada banyak cara untuk bersyukur kepada Allah, salah satu yang paling mudah dilakukan adalah dengan cara meyakini bahwa nikmat yang diterima semata-mata pemberian Allah dan tidak menisbatkan kenikmatan itu kepada kepintaran, kekuatan, keberanian, dan sebagainya yang membuat diri kita sombong dan malah merendahkan orang lain.

Kita dapat membandingkan bagaimana cara menyikapi nikmat yang Allah berikan kepada dua orang ini. Orang pertama yaitu Nabi Sulaiman, ketika singgasana Ratu Balqis bisa didatangkan di hadapannya dalam tempo sekejap, maka beliau berkata:

"Ini termasuk karunia Rabbku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya)." [QS. An-Naml ayat 40]

Inilah sikap yang harus dilakukan oleh orang mukmin, lalu mari kita bandingkan dengan sikap dan ucapan Qarun yang menyombongkan kemampuannya, seperti yang Allah kisahkan:

"Qarun berkata: 'Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku'." [QS. Al-Qashash ayat 78]

Karena kesombongannyalah akhirnya Allah membinasakan Qarun dan tanah menelannya bersama dengan harta benda miliknya hanya dalam waktu semalam. Inilah salah satu bukti azab dari Allah untuk orang-orang yang mengingkari nikmat-Nya. Namun, meskipun Qarun sudah binasa beribu-ribu tahun yang lalu, namun sifatnya masih ada hingga sekarang.

Untuk itu, ketika mendapatkan nikmat, hendaknya kita selalu mensyukuri nikmat Allah tersebut, jangan menisbatkan nikmat yang kita peroleh itu kepada kekuatan, kepintaran, keberaniannya, dan semisalnya yang menjadikan kita sombong dan ingkar kepada nikmat Allah.

Selain itu, pergunakanlah nikmat yang kita peroleh untuk melakukan amal-amal shaleh yang lainnya seperti jika kita diberikan harta dan rizki yang melimpah, maka kita gunakan untuk beramal, membantu orang lain yang membutuhkan, berzakat, dan lain sebagainya. Dan apabila kita mendapatkan nikmat berupa kesehatan maka pergunakanlah nikmat tersebut untuk menjadi lebih taat kepada apa yang Allah perintahkan kepada kita.

Menyikapi Cobaan Berupa Musibah


Salah satu dari bentuk cobaan ialah musibah. Namun perlu diketahui bahwa setiap musibah itu datang atas kehendak dan seizin dari Allah SWT, dan Allah mengatakan bahwa barangsiapa yang bersabar menghadapinya maka Allah akan memberikannya balasan berupa kebaikan. Allah berfirman,

"Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." [QS. At-Taghabun ayat 11]

Lalu bagaimana sebaiknya sikap kita kala menghadapi cobaan? ketika menghadapi sebuah musibah, sebaiknya kita lebih banyak bersabar dan tabah dalam menghadapinya. Kita juga harus meyakini bahwa setiap cobaan yang datang itu atas kehendak dari Allah SWT, kita hanya bisa pasrah dalam menjalaninya dengan meyakini bahwa disetiap cobaan tersebut pasti akan ada hikmah yang baik untuk kita.

Adapun kita juga harus menganggap sebuah musibah sebagai nikmat karena musibah yang menimpa seorang mukmin adakalanya sebagai penghapus dosa yang dilakukannya, atau untuk meninggikan derajatnya, atau sebagai cambuk peringatan agar dia kembali ke jalan Allah.

Kesimpulan


Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyah rahimahullah mengatakan:

"Di antara tanda-tanda kebahagiaan dan keberuntungan adalah, apabila ilmu seseorang bertambah maka ia semakin tawadhu’ dan pengasih. Bila amalnya bertambah maka ketakutan dan kewaspadaannya juga bertambah. Jika umurnya bertambah maka makin berkurang sifat tamaknya. Setiap kali bertambah hartanya maka makin dermawan dan makin tinggi kesungguhannya dalam berinfak. Semakin tinggi posisinya maka ia semakin dekat dengan banyak orang, memenuhi hajat mereka dan bersikap rendah hati terhadap manusia."

"Sementara, tanda-tanda kesengsaraan seseorang adalah, apabila ilmunya bertambah maka ia semakin sombong dan sesat, setiap kali amalnya bertambah maka ia semakin bangga dan meremehkan orang lain, semakin tambah usianya maka ia semakin tamak, semakin banyak hartanya maka ia semakin kikir dan bakhil, setiap kali naik jabatannya maka semakin sombong ia dan makin sesat."

Karena sejatinya kenikmatan adalah cobaan dari Allah yang akan memperlihatkan rasa syukur atau kufur. Sama halnya dengan musibah, dia juga datang dari Allah untuk memperlihatkan kesabaran atau kemarahan. Sehingga kenikmatan dan kelapangan adalah ujian yang harus di sikapi dengan rasa syukur. Sedangkan cobaan dan musibah juga merupakan ujian yang harus di sikapi dengan kesabaran.

Itulah sikap seorang mukmin ketika menghadapi cobaan dan ujian hidup. Semoga menjadi bahan renungan untuk kita semua, aamiin.