Benarkah Bulan Suro atau Muharram itu Bulan Sial?

Bantu kami membuat situs ini menjadi lebih baik.

Dengan menonaktifkan AdBlock atau aplikasi-aplikasi sejenis yang mampu memblokir iklan, kamu sudah membantu kami untuk tetap membuat konten-konten di website ini terus update.

Untuk selengkapnya, baca artikel kami berikut ini: Suka Artikel Kami? Tolong Matikan AdBlock Anda Untuk Makintau

Bulan muharram adalah bulan pertama dalam penanggalan hijriyah. Dalam budaya masyarakat Indonesia khususnya budaya Jawa, bulan ini juga dikenal dengan nama bulan suro.

Sudah menjadi keyakinan kebanyakan orang di Indonesia bahwa bulan suro/muharram ini merupakan bulan keramat. Sehingga banyak yang beranggapan bahwa di beberapa tanggal tertentu di bulan suro/muharram tidak boleh melakukan pesta hajatan, pernikahan, menghindari perjalanan jauh dan lain sebagainya karena dianggap dapat mendatangkan malapetaka atau sial kepada orang yang melakukannya.

Benarkah Bulan Suro atau Muharram itu Bulan Sial?

Karena saking banyaknya orang yang percaya dengan mitos tersebut, maka banyak sekali orang yang menghindari hal-hal tersebut karena takut terkena sial bulan suro atau muharram.

Lalu bagaimana pandangan Islam terhadap mitos tersebut?

Di dalam ajaran Islam, sudah jelas bahwa mempercayai mitos tersebut adalah tidak dibenarkan. Karena di dalam Islam, bulan muharram adalah salah satu bulan yang mulia, bahkan kita malah disunnahkan untuk berpuasa di bulan ini. Rasulullah SAW bersabda,

"Puasa yang paling utama setelah bulan Ramadhan adalah bulan Allah; Muharram. Dan shalat paling utama sesudah shalat fardhu adalah shalat malam." [HR. Ahmad dan Muslim]

Selain itu, meyakini bahwa adanya hari atau bulan sial itu tidak dibolehkan di dalam Islam. Karena, hal itu berarti kita telah mencela waktu yang Allah ciptakan, padahal sesungguhnya hari, bulan dan tahun yang Allah ciptakan semuanya adalah baik. Jadi kita tidak boleh menganggap bahwa ada hari atau bulan yang membawa sial.

Rasulullah bersabda,

"Janganlah kalian mencela dahr (waktu) karena Allah itu adalah (pencipta) dahr" [HR. Muslim]

Selain itu, mempercayai bahwa ada hari atau bulan sial adalah termasuk dalam thiyarah atau tasya'um yakni menganggap sial sesuatu. Sedangkan Rasulullah sendiri pernah bersabda bahwa thiyarah adalah termasuk kesyirikan!

"Thiyarah adalah kesyirikan" (beliau mengulangi 3x) [HR. Ahmad]

Untuk itu, berhentilah kita menganggap bahwa bulan muharram atau bulan suro ini adalah bulan sial. Karena hal ini tidak dibenarkan didalam agama. Kemudian perlu kita ketahui bahwa tidak ada larangan untuk melakukan pernikahan di bulan muharram dalam Islam.

Apabila kita telah mengetahui bahwa anggapan sial atau keberuntungan seperti itu termasuk kesyirikan, maka kewajiban kita selanjutnya adalah menjauhinya dan menjauhkannya dari anak dan istri kita dari keyakinan tersebut. Semoga bermanfaat.