Kisah-Kisah Akhir Kehidupan Mereka yang Gemar ke Masjid

Bantu kami membuat situs ini menjadi lebih baik.

Dengan menonaktifkan AdBlock atau aplikasi-aplikasi sejenis yang mampu memblokir iklan, kamu sudah membantu kami untuk tetap membuat konten-konten di website ini terus update.

Untuk selengkapnya, baca artikel kami berikut ini: Suka Artikel Kami? Tolong Matikan AdBlock Anda Untuk Makintau

Masjid adalah tempat beribadah umat Islam, bagi orang-orang yang gemar beribadah masjid bisa dibilang sebagai rumah kedua bagi mereka. Dan inilah beberapa kisah akhir hayat dari orang-orang yang gemar ke masjid.

Kisah-Kisah Akhir Kehidupan Mereka yang Gemar ke Masjid

Kisah Pertama

Dokter Jasim al-Haditsy seorang penasehat jantung anak di 'Amir Sulthan Center untuk Penyakit Jantung' Rumah Sakit Angkatan Bersenjata Riyadh, megisahkan kepadaku,

"Salah seorang rekanku yang bisa dipercaya bercerita kepadaku, bahwa suatu malam saat ia sedang bertugas di rumah sakit, ada seorang pasien yang meninggal dunia, maka ia segera memastikan akan kematian pasien tersebut.

Ia meletakkan stetoskop di atas dadanya hingga ia mendengarkan suara, 'Allahu akbar, Allahu akbar, Asyhadu alla ilaha illallah...'

Ia berkata, "Saya rasa adzan subuh." Kemudian saya bertanya kepada perawatnya, "Jam berapa sekarang?", ia menjawab, "Jam satu malam."

Saya tahu bahwa saat ini belum tiba saatnya adzan subuh, kemudian saya kembali meletakkan stetoskop di atas dadanya dan saya kembali mendengarkan adzan tersebut selengkapnya.

Saya bertanya kepada keluarga orang ini, tentang keadaannya semasa hidup, mereka menjelaskan,

"Ia bekerja sebagai muadzin pada sebuah masjid, biasanya ia datang ke masjid seperempat jam sebelum tiba waktunya atau kadang lebih awal lagi. Ia selalu mengkhatamkan Al Qur’an dalam tiga hari dan sangat menjaga lisannya dari kesalahan."

Kisah Kedua

Tanggal lima belas bulan Ramadhan 1421 H, seorang jamaah shalat pingsan di masjid saat ia mengumandangkan iqamah shalat subuh, dengan segera tiga orang dari jamaah shalat membawanya ke Rumah Sakit Angkatan Bersenjata di Riyadh.

Orang itu kemudian sadar saat mereka masih dalam perjalanan menuju rumah sakit. Sekonyong-konyong ia berdzikir seakan-akan tidak pernah terjadi apapun.

Sesampainya di instalasi gawat darurat, ia disambut oleh seorang pemeriksa jantung yang menceritakan kisah ini kepadaku,

"Kami menemukan adanya peradangan mematikan yang parah sekali pada sebagian besar jantungnya". Kondisi itu membuat kami tercengang.

Saat saya berusaha untuk membawanya ke ruang ICU, tiba-tiba saya mendengar suara tasbih dan tahlil, dan ia membisikkan sesuatu ke telinga salah seorang rekanku lalu tersenyum sambil membaca,

"Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah."

Setelah itu jiwanya terbang menuju keharibaan Tuhan-nya.

Rekanku yang mendengar bisikan orang tersebut tiba-tiba menangis tersedu-sedu.

Aku kaget atas kejadian ini dan segera menanyakan keadaannya. Ia berkata,

"Orang ini telah membisikkan kepadaku, "Dokter! Usahlah Anda menyibukkan diri, sungguh aku akan mati, aku telah melihat surga, insya Allah aku akan segera menuju ke sana, aku melihatnya sekarang, sungguh aku melihatnya."

Saat orang ini ditanya tentang riwayat hidup (sisi kehidupan) orang yang telah meninggal ini, ia berkata,

"Ia sangat menjaga dua perkara:

Pertama

Ia dan muadzin selalu saling dahulu mendahului untuk datang ke masjid, kadang muadzin mendahuluinya dan lebih sering ia yang datang terlebih dahulu.

Kedua

Ia tidak dikenal kecuali sebagai pribadi yang baik. Allah Ta’ala telah menjaganya dari perbuatan keji dan mungkar, ia tidak pernah berbohong atau menggunjing orang lain.”

Allah telah mencukupinya dan Allah telah menjaminnya. Dan sungguh kita tidak bisa memberikan rekomendasi apapun untuk siapapun di hadapan Allah."

Oleh: dr. Khalid bin Abdul Aziz Al-Jubair

Semoga bermanfaat.