Siapa Sebenarnya Sosok Biksu Ashin Wirathu Itu?

Bantu kami membuat situs ini menjadi lebih baik.

Dengan menonaktifkan AdBlock atau aplikasi-aplikasi sejenis yang mampu memblokir iklan, kamu sudah membantu kami untuk tetap membuat konten-konten di website ini terus update.

Untuk selengkapnya, baca artikel kami berikut ini: Suka Artikel Kami? Tolong Matikan AdBlock Anda Untuk Makintau

Akhir-akhir ini sedang ramai di media sosial yang membicarakan tentang sosok Ashin Wirathu. Tidak hanya di Indonesia saja, sosok Ashin Wirathu ini juga diperbincangkan di luar negeri. Bahkan, media-media ternama dunia seperti majalah Time juga membicarakan sosok orang ini.

Ashin Wirathu adalah seorang biksu asal Burma yang lahir pada 1968. Pada umur 14 tahun ia berhenti sekolah dan menjalani hidup kebikkhuan tersebut. Yang membuatnya menjadi terkenal seperti sekarang ini adalah karena aktivitas-aktivitasnya yang selama ini dikenal radikal.

Siapa Sebenarnya Sosok Biksu Ashin Wirathu Itu?

Terlebih lagi setelah tragedi pembantaian dan pengusiran Muslim Rohingya beberapa waktu silam, namanya semakin mencuat dan dikait-kaitkan dengan kejadian tersebut.

Siapa yang menyangka, wajah tenang dengan pakaian sederhana yang sama seperti para biksu pada umumnya ternyata sangat bertolak belakang dengan kelakuannya selama ini.

Majalah-majalah terkemuka seperi Time, New York Times, sampai Washington Post bahkan melabelinya dengan sebukan pembenci muslim karena Ashin Wirathu disebut sebagai penggerak kaum Buddha di Myanmar menyerang Muslim Rohingya.

Bahkan majalah Time menjadikan wajahnya sebagai cover majalah mereka dan terdapat tulisan 'The Face of Buddhist Terror'. Washington Post juga menguak sepak terjang Ashin Wirathu yang mendalangi dalam pergerakan pembantaian Rohingya.

"Kamu bisa saja penuh cinta dan kebaikan, tapi kamu tidak akan bisa tidur tenang di sebelah anjing gila," tutur Ashin seperti mengutip Washington Post. Anjing gila yang dimaksud adalah muslim Rohingya.

Ia juga mengatakan bahwa dirinya bangga disebut sebagai Buddha garis keras karena kebenciannya terhadap Islam. Bahkan, dengan terang-terangan Ashin dalam ceramahnya di depan jama'ahnya mengatakan bahwa muslim Rohingya adalah musuh yang harus dihabisi.

Ia sangat aktif di sosial media seperti Youtube dan Facebook yang digunakannya sebagai sarana untuk menyebarkan pesannya. Bahkan, saat ini ia telah memiliki pengikut lebih dari 37.000.

Ashin Wirathu menyebarkan ajaran kebencian dalam setiap ceramahnya. Dia selalu menyasar komunitas Muslim, seringkali dia memojokkan Rohingya. Pria inilah yang memimpin demonstrasi yang mendesak orang-orang Rohingya direlokasi ke negara ketiga.

Ashin juga mengkambinghitamkan kaum Muslim atas bentrokan yang terjadi. Dia terus mengulang alasan tak masuk akal soal tingkat reproduksi Muslim yang tinggi.

Biksu itu mengklaim perempuan Buddhis dipaksa pindah agama. Dia memimpin kampanye yang mendesak Pemerintah Myanmar mengeluarkan peraturan yang melarang perempuan Buddhis menikah dengan pria beragama lain tanpa izin pemerintah.

Dikutip dari sejumlah sumber, biksu Ashin Wirathu melakukan itu sebagai pembalasan atas penghancuran patung Buddha Bamiyan di Afganistan. Aksi pembalasannya itu dinamai gerakan 969.

PBB sempat geram kepadanya setelah ia melontarkan makian kepada seorang utusan PBB dengan menyebutnya sebagai 'pelacur' dan 'wanita jalang'. Pejabat hak asasi manusia PBB, Zeid Ra'ad Al Hussein pun mendesak pemerintah Myanmar mengecam keras biksu Ashin Wirathu.

Saat ini, ada lebih dari 1.000 pengungsi Rohingya yang terusir dari rumahnya di Myanmar dan kini mengungsi di Aceh dan Sumatera Utara. Kondisi muslim Rohingya saat ini sangat memprihatinkan.

Namun, sayangnya pemerintah Myanmar tidak sanggup berbuat banyak atas kekerasan yang terjadi pada warganya itu. Setelah hampir setengah abad dikuasai militer, kini Myanmar dipimpin oleh warga sipil. Namun, bentrokan antar agama memperlambat reformasi negara itu.

Sebagian orang percaya, Ashin diterima pemerintah kareana dia menyuarakan pendapat soal pandangan-pandangan populer, misalnya soal Rohingya. Ashin seolah menjadi corong pemerintah yang tidak bisa menyuarakan keinginannya sendiri karena alasan diplomatik.

Kaum perempuan Myanmar adalah satu-satunya kelompok yang konsisten menentang pandangan Ashin Wirathu. "Dia memberi reputasi buruk untuk negara kita. Dia menodai jubah biksu yang dia gunakan," kata Sekretaris Jenderal Liga Perempuan Burma, Tin Tin Nyo.

Dia juga mengatakan, kampanye Ashin Wirathu yang mengusulkan peraturan yang membatasi perempuan menikahi pemeluk agama lain, bukanlah bentuk perlindungan perempuan melainkan bentuk kontrol atas perempuan.

"Perempuan dapat memutuskan sendiri siapa yang ingin dia nikahi. Perempuan dapat memilih sendiri agama yang ingin dianut," kata Tin Tin Nyo.