Anjuran Bertoleransi Dalam Islam

Bantu kami membuat situs ini menjadi lebih baik.

Dengan menonaktifkan AdBlock atau aplikasi-aplikasi sejenis yang mampu memblokir iklan, kamu sudah membantu kami untuk tetap membuat konten-konten di website ini terus update.

Untuk selengkapnya, baca artikel kami berikut ini: Suka Artikel Kami? Tolong Matikan AdBlock Anda Untuk Makintau

Islam memperbolehkan umatnya untuk bekerja sama dengan pemeluk agama lain dalam aspek mu'amalah (ekonomi, sosial, dan urusan duniawi lainnya). Rasulullah juga memberikan contoh bagaimana hidup bersama dalam keberagaman.

Dalam banyak hadits, banyak yang meriwayatkan bahwa Rasulullah adalah contoh yang baik dalam menjalin hunungan hidup dalam keberagaman, diantaranya adalah sebagai berikut:

Sesungguhnya ketika (serombongan pembawa) jenazah melintas di depan Rasulullah, maka beliau berdiri, lalu para sahabat bertanya, "Sesungguhnya ia adalah jenazah orang Yahudi wahai Rasulullah?", lalu Rasulullah menjawab, "Bukankah dia juga jiwa (manusia)?" [HR. Bukhari]

Dari Abdullah bin Amr, sesungguhnya dia menyembelihkan seekor kambing, dia berkata, "Apakah kalian sudah memberikan hadiah (daging) kepada tetanggaku yang beragama Yahudi? karena aku mendengar Rasulullah bersabda, "Jibril senantiasa berwasiat kepadaku tentang tetangga, sampai aku menyangka ia mewariskannya kepadaku." [HR. Abu Daud]

Sesungguhnya Rasulullah berhutang makanan dari orang Yahudi dan beliau menggadaikan pakaian besi kepadanya. [HR. Bukhari]

Anjuran Bertoleransi Dalam Islam

Di dalam Alquran juga menjelaskan tentang hidup bertoleransi, yaitu dalam surat Al-Kafirun ayat 1-6.

"Katakanlah: "Hai orang-orang kafir, Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku"." [QS. Al-Kafirun ayat 1-6]

Turunnya surat ini menjelaskan adanya usul 'damai' yang disampaikan para pemuka kaum Quraisy kepada Nabi Muhammad SAW. Mereka mengusulkan kepada Rasulullah agar bersedia menyembah berhala-berhala yang mereka sembah, dan mereka juga akan menyembah apa yang Rasulullah sembah.

Karena adanya usul tersebut, Allah kemudian menurunkan surat tersebut yang menegaskan bahwa apa yang diusulkan kaum Quraisy itu tidak akan terjadi karena Nabi Muhammad SAW dan para pengikutnya adalah manusia yang bertauhid (mengesakan Allah), sedangkan kaum Quraisy adalah manusia musyrik/syirik yang menyekutukan Tuhan.

Karena soal aqidah atau ketauhidan tidak boleh di campur aduk atau dikompromikan dengan kemusyrikan, karena jika tauhid didamaikan dengan syirik, maka kemanangan milik syirik.

Lalu, bagaimana seebaiknya sikap umat Islam yang memahami kandungan surat Al-Kafirun ayat 1-6 tersebut? perilaku yang baik yaitu:

  1. Menolak ajakan kaum musyrikin untuk tukar-menukar pengalaman dalam keimanan dan peribadatan atau untuk keluar dari agama Islam dan menganut agama mereka dengan tegas dan bijaksanan.
  2. Setiap muslim dan muslimah akan selalu yakin dengan kebenaran agama Islam yang dianutnya dan mengamalkan seluruh ajarannya serta senantiasa bertaqwa kepada Allah SWT.
  3. Meskipun tidak ada kompromi dalam hal keimanan dan aqidah serta peribadatan, namun dalam pergaulan hidup bermasyarakat hendaknya kita saling menghargai dan menghormati umat lain serta bekerja sama dengan mereka agar terwujud keamanan, ketertiban, kedamaian dan kesejahteraan bersama.

Selain itu, anjuran untuk bertoleransi juga terdapat dalam QS. Yunus ayat 40-41.

"Di antara mereka ada orang-orang yang beriman kepada Al Quran, dan di antaranya ada (pula) orang-orang yang tidak beriman kepadanya. Tuhanmu lebih mengetahui tentang orang-orang yang berbuat kerusakan." [QS. Yunus ayat 40]

"Jika mereka mendustakan kamu, maka katakanlah: "Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. Kamu berlepas diri terhadap apa yang aku kerjakan dan akupun berlepas diri terhadap apa yang kamu kerjakan"." [QS. Yunus ayat 41]

Ayat diatas menjelaskan bahwa di dunia ini terdapat dua golongan yaitu golongan orang yang beriman dan tidak beriman. Ayat tersebut menyiratkan ajaran apabila ada orang yang berbeda sikap dan pandangan dengan kita, dimana pandangan dan sikap orang tersebut salah menurut agama kita, maka kita wajib untuk mengajaknya agar berubah ke jalan yang benar.

Namun, apabila orang tersebut tetap kukuh pada apa yang dia yakini maka kita tidak boleh memaksanya. Seperti yang telah Allah firmankan:

"Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." [QS. Al-Baqarah ayat 256]

Dan Allah SWT menyuruh kita untuk mengatakan, "Jika mereka mendustakan kamu, maka katakanlah: "Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. Kamu berlepas diri terhadap apa yang aku kerjakan dan akupun berlepas diri terhadap apa yang kamu kerjakan"." [QS. Yunus ayat 41]

Sehingga jelas bahwa Islam adalah agama yang sangat toleran terhadap keberagaman selama itu tidak mencampur adukkan aqidah dengan kesyirikan. Semoga bermanfaat.