Hikmah Dibalik Perbedaan Bacaan Shalat

Bantu kami membuat situs ini menjadi lebih baik.

Dengan menonaktifkan AdBlock atau aplikasi-aplikasi sejenis yang mampu memblokir iklan, kamu sudah membantu kami untuk tetap membuat konten-konten di website ini terus update.

Untuk selengkapnya, baca artikel kami berikut ini: Suka Artikel Kami? Tolong Matikan AdBlock Anda Untuk Makintau

Selama ini kita mengetahui bahwa terdapat beberapa perbedaan dalam bacaan-bacaan shalat. Untuk satu gerakan shalat kita dapat menjumpai beberapa riwayat bacaan shalat yang berbeda.

Misalkan pada doa ketika sujud, kita dapat menemukan berbagai macam riwayat dari satu gerakan ini yang menerangkan bacaan-bacaan yang berbeda. Dalam riwayat muslim, hadits Abu Hudzaifah radhiyallahu’anhu diterangkan bacaan sujud adalah,

"Subhaana Robbiyal A'la" *3x
Artinya: "Maha suci Allah, Rabb yang Maha tinggi"

Kemudian dalam riwayat lainnya, hadits Abu Hurairah radhiyallahu’anhu diterangkan doa yang berbeda:

"Allahummagh fir Lii Dzanbii Kullah, Diqqohu wa Jillah, wa Awwalahu wa Aakhiroh, wa ‘Alaaniyatahu wa sirroh"
Artinya: "Ya Allah, ampunilah seluruh dosaku, yang sekecil-kecilnya dan yang sebesar-besarnya, yang pertama dan yang terakhir, yang terang-terangan dan yang tersembunyi"

Dan masih banyak yang lainnya, tapi tahukah Anda ternyata dibalik bacaan-bacaan shalat yang berbeda ini mengandung hikmah? Lalu, apa hikmah tersebut?

Hikmah Dibalik Perbedaan Bacaan Shalat

Syaikh Muhammad bin Shalih Al 'Utsaimin menerangkan bahwa hikmah dibalik itu semua ialah agar pada saat menjalankan ibadah shalat, orang tersebut selalu berada dalam konsentrasi dan upaya agar bisa mencapai kekhusyukan.

Sehingga, bacaan shalat tersebut tidak hanya sebagai bacaan yang menjadi kebiasaan saja. Seorang bila bacaan sujudnya itu itu saja, maka tidak menutup kemungkinan dia akan jatuh dalam keadaan dimana membaca doa tersebut hanya sebatas kebiasaan, tanpa lagi tersadar untuk menghayati maknanya.

Namun, hal berbeda akan terjadi apabila Anda membaca doa lain yang juga diajarkan oleh Rasulullah SAW. Maka saat itu Anda akan merasakan adanya usaha untuk menghayati makna yang terkandung dalam doa dan berusaha untuk menghadirkan konsentrasi. Sehingga Anda akan terbantu untuk mencapai kyusu' dalam sholat.

Barangkali ini bagian dari jawaban keluhan sebagian orang, mengenai sulitnya mencapai khusyuk dalam sholat. Bisa jadi dikarenakan bacaan doa yang tidak dinamis; hanya itu-itu saja. Sehingga yang ia rasakan dari doanya sebatas kebiasaan, kurang tersentuh makna dan kandungannya. Hati dan pikiran tidak ada usaha untuk menghayati dan konsentrasi.

Disamping itu, orang yang berusaha mengamalkan (semampunya) seluruh doa yang diajarkan Nabi dalam setiap gerakan sholat, orang seperti ini lebih sempurna dalam hal mengikuti sunnah Nabi shallallahu’alaihi wasallam, ketimbang mereka yang hanya membaca satu jenis doa saja. Karena mengingat Nabi dahulu membacanya berbeda-beda.

Hikmah lainnya, Allahu a’lam; yang juga dijelaskan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘ Utsaimin, karena obyek yang dituju dalam perintah ibadah kepada Allah adalah, manusia (mencakup di dalamnya jin). Dan sudah suatu hal yang maklum bahwa tabi’at manusia mudah merasakan bosan dengan kebiasaan yang tidak dinamis.

Allah berfirman:

"Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan atau rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?" [QS. Al-Mulk ayat 14]