Forex Itu Halal atau Haram dalam Islam?

Bantu kami membuat situs ini menjadi lebih baik.

Dengan menonaktifkan AdBlock atau aplikasi-aplikasi sejenis yang mampu memblokir iklan, kamu sudah membantu kami untuk tetap membuat konten-konten di website ini terus update.

Untuk selengkapnya, baca artikel kami berikut ini: Suka Artikel Kami? Tolong Matikan AdBlock Anda Untuk Makintau

Forex atau Foreign Exchange atau di Indonesia disebut dengan Valuta Asing alias Valas adalah jenis bisnis investasi yang cara kerjanya adalah dengan jual beli mata uang asing. Sedangkan trader adalah sebutan bagi orang yang menjalankan bisnis forex tersebut.

Di Indonesia sendiri, forex sah dan legal menurut Undang-undang No. 32 Tahun 1997 tentang perdagangan berjangka dan komoditi. Sehingga jelas bahwa forex atau valas ini legal menurut hukum di Indonesia.

Forex Itu Halal atau Haram dalam Islam?

Namun, ada perbedaan pendapat dari beberapa kalangan. Ada yang menganggap bahwa bisnis forex ini haram menurut hukum agama Islam, namun ada juga yang membolehkan atau menganggap bahwa bisnis forex ini boleh dijalankan selama tidak melanggar hukum Islam. Lalu, sebenarnya apa hukum forex dalam Islam?

Ada yang menganggap bahwa forex itu adalah bisnis yang sejenis dengan perjudian. Namun sebenarnya anggapan itu adalah salah, karena transaksi forex dilakukan menggunakan analisa berdasarkan kondisi pasar, kondisi ekonomi, trend, grafik, indikator, dan kurva yang sedang terjadi pada saat itu juga.

Secara hukum Islam, forex diperbolehkan dengan syarat:

  1. Tidak dimaksudkan untuk spekulasi
  2. Adanya kebutuhan untuk transakasi
  3. Jika terjadi antara mata uang yang berbeda maka menggunakan nilai tukar yang berlaku saat itu dan dilakukan dengan tunai
  4. Jika terjadi antara mata uang yang sama maka tidak boleh ada kelebihan nilai dan harus tunai

Beberapa hal yang harus Anda tahu bahwa jika investasi forex dilakukan tanpa ditunda dan secara langsung, maka halal hukumnya. Namun jika Anda menunda investasi forex ini untuk mendapatkan keuntungan, maka haram hukumnya.

Untuk itu, ada baiknya kita mengenal jenis-jenis transaksi dalam forex atau valas:

1. Transaksi Spot

Transaksi Spot yaitu transaksi pembelian dan penjualan valuta asing untuk penyerahan pada saat itu (over the counter) atau penyelesaiannya paling lambat dalam jangka waktu dua hari.

Hukumnya adalah boleh, karena dianggap tunai, sedangkan waktu dua hari dianggap sebagai proses penyelesaian yang tidak bisa dihindari dan merupakan transaksi internasional.

2. Transaksi Forward

Transaksi Forward yaitu transaksi pembelian dan penjualan valas yang nilainya ditetapkan pada saat sekarang dan diberlakukan untuk waktu yang akan datang, antara 2x24 jam sampai dengan satu tahun.

Hukumnya adalah haram, karena harga yang digunakan adalah harga yang diperjanjikan (muwa'adah) dan penyerahannya dilakukan di kemudian hari, padahal harga pada waktu penyerahan tersebut belum tentu sama dengan nilai yang disepakati, kecuali dilakukan dalam bentuk forward agreement untuk kebutuhan yang tidak dapat dihindari (lil hajah)

3. Transaksi Swap

Trasnsaksi Swap yaitu suatu kontrak pembelian atau penjualan valas dengan harga spot yang dikombinasikan dengan pembelian antara penjualan valas yang sama dengan harga forward. Hukumnya haram, karena mengandung unsur maisir (spekulasi).

4. Transaksi Option

Transaksi Option yaitu kontrak untuk memperoleh hak dalam rangka membeli atau hak untuk menjual yang tidak harus dilakukan atas sejumlah unit valuta asing pada harga dan jangka waktu atau tanggal akhir tertentu. Hukumnya haram, karena mengandung unsur maisir (spekulasi).

Sehingga bisa disimpulkan bahwa forex itu boleh dilakukan dengan menggunakan jenis transaksi spot. Selain itu, saat ini juga banyak sekali broker yang menyediakan akun forex Islami untuk para trader muslim.

Jika Anda berdagang dengan akun Islami, Anda tidak akan membayar atau menerima swap yang dianggap sebagai riba. Dengan akun Islami, Anda akan dibebaskan dari bunga, sehingga bebas dari riba, karena riba adalah sesuatu yang diharamkan oleh Allah SWT

"Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya." [QS. Al-Baqarah ayat 275]

Semoga bermanfaat. Terimakasih.