Apakah Hewan Qurban Merasakan Sakit Saat Disembelih?

Bantu kami membuat situs ini menjadi lebih baik.

Dengan menonaktifkan AdBlock atau aplikasi-aplikasi sejenis yang mampu memblokir iklan, kamu sudah membantu kami untuk tetap membuat konten-konten di website ini terus update.

Untuk selengkapnya, baca artikel kami berikut ini: Suka Artikel Kami? Tolong Matikan AdBlock Anda Untuk Makintau

Idul Adha sangat identik dengan penyembelihan hewan qurban. Sehingga tidak jarang banyak orang di Indonesia menyebutnya dengan hari raya qurban. Penyembelihan qurban diperingati karena dulu Nabi Ibrahim bersedia mengorbankan anaknya, Ismail untuk Allah SWT.

Namun, Allah pada saat itu hanya ingin menguji Ibrahim saja. Sehingga pada saat Ibrahim akan menyembelih anaknya, Allah menggantikan Ismail dengan domba. Setelah salat, dilakukan penyembelihan hewan kurban, untuk memperingati perintah Allah kepada Nabi Ibrahim yang menyembelih domba sebagai pengganti putranya.

Apakah Hewan Qurban Merasakan Sakit Saat Disembelih?

Nah pada saat penyembelihan hewan qurban, Anda pasti pernah bertanya pada diri Anda, "apakah hewan yang disembelih itu merasakan sakit?". Jika Anda masih penasaran, berikut ini adalah jawabannya.

Penelitian yang dilakukan oleh Prof Wilhelm Schulze dan koleganya Dr. Hazim dari Hannover University menemukan sebuah hasil yang mengejutkan. Penelitian ini dilakukan untuk menjawab pertanyaan "manakah yang lebih baik?" antara:

1. Penyembelihan sesuai syariat Islam?
2. Penyembelihan dengan metode barat dengan cara pemingsanan terlebih dahulu?

Dalam penelitian tersebut, keduanya merancangnya dengan canggih. Mereka menggunakan sekelompok sapi yang sudah dewasa dan cukup umur untuk dijadikan sebagai bahan penelitian.

Sapi-sapi tersebut dipasang elekroda (microchip) yang disebut Electro Encephalograph (EEG) di bagian permukaan otak kecil mereka. EEG dipasang dipermukaan otak yang menyentuh titik (panel) rasa sakit, untuk merekam dan mencatat derajat rasa sakit ketika disembelih.

Kemudian, pada jantung sapi juga dipasangi alat bernama Electro Cardiograph (ECG) yang berfungsi untuk merekam aktivitas jantung saat darah keluar karena disembelih.

Untuk menekan kesalahan, sapi dibiarkan beradaptasi dengan EEG dan ECG yang telah terpasang ditubuhnya selama beberapa minggu, setelah adaptasi dianggap cukup maka separuh sapi disembelih sesuai syariat islam yang murni, dan sisanya disembelih dengan menggunakan metode pemingsanan yang diadopsi barat.

Penyembelihan yang sesuai syariat Islam adalah dengan menggunakan pisau yang tajam dengan cara memotong 3 saluran pada leher, yaitu: saluran makan, saluran napas serta dua saluran pembuluh darah, yaitu arteri karotis dan vena jugularis.

Sedangkan penyembelihan cara barat merekomendasikan untuk menyembelih dengan cara hewan yang akan disembelih dibuat pingsan terlebih dahulu. Islam tidak mengajarkan metode seperti itu.

Hasil penelitian tersebut akhirnya berhasil menjawab pertanyaan tersebut. Prof Wilhelm Schulze dan koleganya Dr. Hazim menyimpulkan bahwa penyembelihan sesuai dengan syariat Islam lebih baik dan paling tidak menyiksa hewan.

Alasan mereka menyimpulkan demikian karena alasan sebagai berikut:

Penyembelihan Secara Islami


1. Pada 3 detik pertama setelah ternak disembelih (dan ketiga saluran pada leher sapi bagian depan terputus) tercatat tidak ada perubahan pada grafik EEG, hal ini berarti pada 3 detik pertama setelah disembelih tidak ada indikasi rasa sakit.

2. Pada 3 detik berikutnya, EEG pada otak kecil merekam adanya penurunan grafik secara bertahap yg sangat mirip dengan kejadian deep sleep (tidur nyenyak), hingga sapi2 itu benar-benar kehilangan kesadaran Pada saat tersebut tercatat pula ECG bahwa jantung mulai meningkatkan aktivitasnya.

3. Setelah 6 detik pertama ECG pada jantung merekam adanya aktifitas luar biasa dari jantung untuk menarik sebanyak mungkin darah dari seluruh anggota tubuh dan memompanya keluar.

Hal ini merupakan refleksi gerakan koordinasi antara jantung dan sumsum tulang belakang (spinal cord). Pada saat darah keluar melalui ketiga saluran yg terputus dibagian leher, grafik EEG tidak naik, tapi justru drop (turun) sampe zero level (angka nol) Hal ini diterjemah oleh kedua ahli itu bahwa “No Feeling of pain at all !” (tidak ada rasa sakit sama sekali)

4. Karena darah tertarik dan terpompa oleh jantung keluar tubuh secara maksimal, maka dihasilkan "healthy meat" (daging yg sehat)

Jenis daging dari hasil sembelih semacam ini sangat sesuai prinsip Good Manufacturing Practise (GMP) yang menghasilkan Healthy Food.

Penyembelihan Metode Pemingsanan


1. Setelah dilakukan proses Stunning (pemingsanan), sapi terhuyung jatuh & collaps (roboh), setelah itu sapi tidak bergerak lagi, sehingga mudah dikendalikan, Oleh karena itu sapi dengan mudah disembelih tanpa meronta-ronta dan tampaknya tanpa mengalami rasa sakit.

Pada saat disembelih darah yang keluar hanya sedikit tidak sebanyak bila disembelih tanpa proses stunning (pemingsanan).

2. Segera setelah proses pemingsanan, tercatat adanya kenaikan yang sangat nyata pada grafik EEG.. Hal ini mengindikasikan adanya tek anan rasa sakit yang diderita oleh ternak (karena kepalanya dipukul, sampai jatuh pingsan).

Media pemingsanan yang digunakan : Setrum, bius, maupun dengan cara yang mereka anggap paling baik memukul bagian tertentu di kepala ternak dengan alat tertentu pula. Alat yang digunakan adalah Captive Bolt Pistol (CBV).

3. Grafik EEG meningkat sangat tajam dengan kombinasi grafik ECG yang drop kebatas paling bawah, akibatnya jantung kehilangan kemampuan untuk menarik darah dari seluruh organ tubuh serta tidak lagi mampu memompanya keluar dari tubuh.

4. Karena darah tidak tertarik dan tidak terpompa keluar tubuh secara maksimal, maka darah itupun membeku di dalam urat/pembuluh darah dalam daging sehingga dihasilkan "unhealthy meat" (daging yang tidak sehat) dengan demikian menjadi tidak layak dikonsumsi oleh manusia.

Timbunan darah beku yang tidak keluar saat ternak mati/disembelih merupakan tempat atau media sangat baik bagi tumbuh kembangnya bakteri pembusuk yg dapat merusak kualitas daging.

Kesimpulan


Kita sering melihat sapi meronta-ronta sesaat setelah disembelih. Hal ini sebenarnya bukanlah ekspresi dari rasa sakit yang dialami oleh sapi tersebut. Hasil penelitian Prof Schultz dan Dr Hazim justru membuktikan bahwa pisau tajam yang mengiris leher (sebagai syariat islam dalam penyembelihan ternak) ternyata tidaklah "menyentuh" saraf rasa sakit.

Dan mereka menyimpulkan bahwa meronta-ronta bukanlah ekspresi rasa sakit, melainkan sebagai ekpresi ‘keterkejutan otot dan saraf’ saja (yaitu pada saat darah mengalir keluar dengan deras).

Jadi, sudah jelas bahwa apa saja yang dilakukan sesuai syariat Islam pasti memiliki kebaikan. Hal ini sesuai dengan sabda nabi:

"Sesungguhnya Allah menetapkan ihsan (kebaikan) pada segala sesuatu. Maka jika kalian membunuh hendaklah kalian berbuat ihsan dalam membunuh, dan apabila kalian menyembelih maka hendaklah berbuat ihsan dalam menyembelih. (Yaitu) hendaklah salah seorang dari kalian menajamkan pisaunya agar meringankan binatang yang disembelih."