Beram Kayal, Pemain Muslim yang Taat Asal Israel

Bantu kami membuat situs ini menjadi lebih baik.

Dengan menonaktifkan AdBlock atau aplikasi-aplikasi sejenis yang mampu memblokir iklan, kamu sudah membantu kami untuk tetap membuat konten-konten di website ini terus update.

Untuk selengkapnya, baca artikel kami berikut ini: Suka Artikel Kami? Tolong Matikan AdBlock Anda Untuk Makintau

Kebanyakan orang-orang di Indonesia beranggapan bahwa Israel selalu identik dengan musuh besar, zionis dan Yahudi. Bahkan ada yang beranggapan bahwa haram hukumnya untuk bersinggungan dengan negara Israel dalam bentuk apapun. Namun ternyata tidak semua yang berbau Israel itu buruk, mungkin kita melihat serangan-serangan tentara Israel terhadap warga Palestina itu memang sangat kejam.

Tetapi, tidak semua atau bahkan seluruh rakyat Israel yang memiliki rasa kemanusiaan pasti tidak akan pernah mendukung perang yang sudah terjadi sejak lama ini. Karena di Israel juga sama seperti halnya di negara-negara lain, disana ada berbagai macam suku bangsa, ras, dan agama, termasuk juga banyak juga disana terdapat warga muslim yang hidup rukun berdampingan dengan orang-orang Yahudi dan Kristen disana.

Beram Kayal, Pemain Muslim yang Taat Asal Israel

Bahkan, banyak orang-orang Islam Israel yang bangga menjadi warga negara Israel. Salah satunya adalah Beram Kayal, bagi Anda yang sangat mencintai dunia sepakbola tentu Anda sudah tidak asing lagi dengan pemain yang satu ini.

Beram Kayal adalah salah seorang pemain sepakbola profesional asal Israel yang saat ini membela klub Celtic FC yang bermain di posisi gelandang. Kayal lahir di kota Jadeidi-Makr, sebuah wilayah di bagian utara Israel yang 90% warganya Muslim. Tidak ada penganut Yahudi di kota tersebut karena 10% sisa dari populasinya merupakan penganut Kristen.

Menurut data dari kantor pusat statistik Israel, populasi Jadeidi-Makr pada tahun 2008 sebanyak 18.200 jiwa yang keseluruhannya merupakan etnis Arab. Lahir dan besar di lingkungan Arab membuat Beram Kayal menjadi salah satu sosok yang taat dalam menjalankan perintah agamanya.

Bahkan iya tidak merasa takut untuk menunjukkan keislamannya di depan teman-temannya yang mayoritas beragama Yahudi baik di klub maupun di timnas sepakbolanya. Kayal juga seorang pemain tim nasional Israel sejak ia masih remaja. Dan ia adalah salah seorang anggota timnas Israel yang beragama Islam.

Seperti yang dikutip dari situs Simomot, sejak kecil, karier sepak bola Kayal selalu berhubungan dengan Yahudi. Ia mulai bermain sepak bola sejak bergabung dengan tim junior Maccabi Haifa. Namanya langsung menjadi populer karena terhitung rajin mencetak gol. Meski baru berusia 16 tahun, Kayal sudah dimasukkan dalam dalam tim Maccabi Haifa U-19 di musim 2004/05 yang kemudian memenangkan dua trofi di ajang liga dan piala.

Keberhasilan tersebut membuat Kayal dianugerahi gelar sebagai pemain terbaik di liga junior Israel. Ia lantas menjalani debut bersama tim utama Maccabi Haifa pada musim 2005/06. Namanya masuk dalam skuat yang mengalahkan Maccabi Petah Tikva di penghujung musim, pertandingan yang memastikan gelar liga ketiga bagi Maccabi Haifa.

Semusim berselang, Kayal semakin dipercaya dengan tampil sebanyak enam kali di semua kompetisi bersama tim reguler. Namanya juga masih tercantum dalam skuat Maccabi Haifa U-19. Bahkan dirinya menjabat sebagai kapten tim dan sukses memimpin rekan-rekannya meraih double winner dengan memenangkan gelar juara liga dan piala di level junior.

Barulah pada musim 2007/08 Kayal benar-benar menjadi pemain inti Maccabi Haifa. Ia bermain sebanyak 36 kali, serta turut andil memberikan gelar juara liga dan Toto Cup di akhir musim. Ia juga memikat media-media di Italia saat membela Maccabi haifa di ajang Torneo di Viareggio. Fakta bahwa dirinya adalah seorang Arab beragama Islam dan bermain untuk tim nasional Israel membuat pers semakin penasaran menguak data-fakta tentang dirinya.

Setelah empat tahun membela Maccabi Haifa, Kayal lantas merantau ke Liga Skotlandia dengan bergabung bersama Glasgow Cletic. 29 Juni 2010, Kayal menanda-tangani kontrak berdurasi empat tahun dan memakai nomor punggung 33. Debutnya pada 19 Agustus 2010 berjalan baik. Ia memberi asis bagus pada gol Efrain JJuarez dan terpilih sebagai man of the match. Sayang, cedera membuatnya absen lama.

Di level timnas, Kayal telah membela Israel sejak dari level U-17. Kariernya terus menanjak dan selalu terpilih dalam skuat timnas di tiap jenjang usia, hingga timnas U-21 dan akhirnya timnas senior. Debut internasionalnya bersama timnas senior Israel dicatatkan pada 6 September 2008 saat melawan Swiss.

Sampai saat ini Kayal telah 26 kali membela timnas senior Israel di berbagai ajang. Satu gol disumbangkannya bagi tim Negara Zionis itu. Gol semata wayangnya tersebut tercipta saat Israel menghadapi Latvia di babak Prakualifikasi Euro 2012 yang berkesudahan dengan skor 2-1 untuk kemenangan Kayal cs.

Sebagai seorang Muslim di timnas sebuah negara Yahudi, Beram Kayal tampak sangat menonjol. Ia dapat dengan mudah dibedakan dari rekan-rekannya di timnas Israel. Pasalnya, Kayal tak pernah lupa berdoa sebelum pertandingan dimulai. Tentu saja berdoa ala Muslim pada umumnya, dengan mengangkat kedua belah tangan ke depan dada sembari berkomat-kamit membacakan doa.

Jangan salah, Kayal bukanlah pesepak bola Muslim pertama di timnas Israel. Jauh sebelum dirinya ada nama Walid Badir, eks kapten Maccabi Haifa dan kemudian pindah ke Hapoel Tel Aviv. Badir lahir di Kafr Qasim, sebuah kota di perbatasan Tepi Barat yang didominasi Arab Muslim. Sepanjang 10 tahun (1997-2007), ia telah tampil sebanyak 74 kali bersama timnas Israel dan mencetak 12 gol. Salah satu golnya yang paling diingat adalah saat menyamakan kedudukan melawan Perancis di Prakualifikasi Piala Dunia 2006.

Sosok lainnya ada Abbas Suan, eks pemain timnas Israel di rentang 2004-2006. Ia tampil sebanyak 12 kali bersama Israel dan mencetak sebuah gol. Satu-satunya gol tersebut ia cetak ke gawang Irlandia dalam sebuah pertandingan Prakualifikasi Piala Dunia 2006. Meski mengakui dirinya adalah seorang Israel, Arab-Israel tepatnya, namun Suan termasuk salah satu dari dua pemain timnas Israel yang tidak mau menyanyikan lagu kebangsaan negeri Zionis tersebut, Hatikvah. Pasalnya, menurut Suan, lagi tersebut hanya menyinggung orang-orang Yahudi.

Di tengah konflik Palestina (yang diidentikkan sebagai Arab Muslim) dengan Israel (diidentikkan sebagai Zionis Yahudi) yang tak kunjung reda sejak berpuluh-puluh tahun lalu, kehadiran pesepak bola Arab Muslim di timnas Negara Yahudi jelas sebuah pemandangan menarik.

Ah, alangkah indahnya jika kerukunan Arab-Israel yang ditunjukkan Beram Kayal dan rekan-rekannya di tim nasional ini bisa menular di tingkat elite politik kedua pihak yang tengah bertikai.