Minuman Bersoda Picu Percepat Penuaan DNA

Bantu kami membuat situs ini menjadi lebih baik.

Dengan menonaktifkan AdBlock atau aplikasi-aplikasi sejenis yang mampu memblokir iklan, kamu sudah membantu kami untuk tetap membuat konten-konten di website ini terus update.

Untuk selengkapnya, baca artikel kami berikut ini: Suka Artikel Kami? Tolong Matikan AdBlock Anda Untuk Makintau

Siapa sih yang tidak suka dengan minuman bersoda? Minuman bersoda memang sangat menggoda dalam hal menghilangkan dahaga. Tapi baru-baru ini penelitian membuktikan bahwa orang yang dalam hidupnya sering mengkonsumsi 350 mililiter minuman bersoda per hari dapat mengalami penuaan dini terhadap DNA mereka.

Lebih lanjut peneliti tersebut mengatakan bahwa orang yang gemar meminum minuman bersoda seperti coca atau limun dapat mengalami penuaan DNA lebih cepat daripada orang yang jarang meminumnya. Mereka telah meneliti dampak minuman ini pada 5 ribu orang. Ini adalah penelitian pertama yang mencari tahu hubungan minuman soda bergula dengan penuaan.

Minuman Bersoda Picu Percepat Penuaan DNA

Dalam penelitian yang telah dipublikasikan pada American Journal of Public Health ini, sebanyak 5.309 orang dewasa sehat yang berusia antara 20 sampai 65 tahun ditanyai soal konsumsi mereka akan minuman soda. Kemudian, DNA mereka diteliti dari sel darah putih.

Seperti yang dikutip dari CNN Indonesia, Peneliti menemukan bahwa telomere atau 'topi' proteksi DNA yang berada di ujung kromosom lebih pendek pada orang yang melaporkan dirinya terbiasa mengonsumsi minuman soda. Telomere adalah bagian pada ujung kromosom yang memendek setiap kali sel membelah.

Selama ini telomere diteliti hubungannya dengan jangka hidup manusia serta pertumbuhan kanker, penyakit jantung, serta diabetes. Studi lainnya meneliti hubungan antara panjang telomere dengan kebiasaan merokok serta kondisi tertekan.

Sementara itu, David Jacobs, seorang profesor kesehatan publik dan epidemiologi di University of Minnesota berkata, "Ini adalah penelitian yang menarik. Namun, penyakit adalah masalah jangka panjang. Dibutuhkan penelitian jangka panjang untuk benar-benar tahu apa yang terjadi." Jacobs tidak terlibat dalam penelitian ini. Di sisi lain, Epel mengatakan timnya berencana menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada dengan penelitian yang lebih lanjut.