Inilah Para Korban Rokok, Hidup Tanpa Pita Suara

Bantu kami membuat situs ini menjadi lebih baik.

Dengan menonaktifkan AdBlock atau aplikasi-aplikasi sejenis yang mampu memblokir iklan, kamu sudah membantu kami untuk tetap membuat konten-konten di website ini terus update.

Untuk selengkapnya, baca artikel kami berikut ini: Suka Artikel Kami? Tolong Matikan AdBlock Anda Untuk Makintau

Rokok saat ini seperti sudah menjadi barang pokok di kehidupan masyarakat kita sekarang. Kita bisa menyaksikan bahwa di jalan-jalan saat ini sudah banyak sekali anak-anak sekolah yang sudah mulai menjadi pecandu rokok. Tanpa rasa risih atau apapun, mereka dengan enaknya melenggang di jalanan dengan memakai seragam sekolah dan dengan rokok di tangannya.

Yang lebih mengerikan lagi saat ini para perokok tersebut sudah merambah ke anak-anak SMP yang masih berusia belasan tahun. Padahal kalau dulu bagi anak-anak sekolah kalau mau merokok saja masih mikir-mikir dan malu. Mungkin sekarang ini zaman memang sudah berubah, banyak sekali hal yang dilakukan oleh anak-anak remaja yang bukan pada waktunya.

Inilah Para Korban Rokok, Hidup Tanpa Pita Suara

Nah, artikel kali ini masih ada kaitannya soal rokok. Kali ini akan kami bagikan tentang kondisi-kondisi para korban rokok yang sudah merasakan sendiri akibat negatifnya dari rokok. Simak baik-baik.

1. RE Lumbantobing

RE Lumbantobing

RE Lumbantobing (77 tahun) selalu memakai syal di balik kerah bajunya yang menutupi leher. Tapi ketika syalnya dibuka terlihat lubang menganga di leher yang untuk orang awam cukup mengerikan melihatnya.

Itulah sebabnya saat ia bicara, syal itu kembang kempis karena di baliknya ada lubang di leher. RE Lumbantobing adalah survivor atau mantan penderita kanker esofagus yang telah kehilangan organ-organ di leher termasuk tenggorokan dan pita suara, terkena efek negatif dari kebiasaan merokok.

Ketika berbicara, bunyi suaranya bukan keluar dari mulut namun bunyi suara dari leher yang ditutupi slayer yang seolah ada speaker di dalamnya. Suaranya juga tidak seperti orang normal pada umumnya, bunyi suara keduanya agak bergetar seperti suara robot atau alien di film-film fiksi ilmiah.

Begitu juga saat bernapas, syal itu bergerak-gerak seperti ada sesuatu yang tersembunyi di dalamnya. Lambaian syal yang bergerak akibat hembusan udara semakin jelas ketika kedua pria ini memperagakan kemampuannya untuk bernapas dengan hidung ditutup rapat. Rupanya hidung keduanya sudah tidak berfungsi sehingga proses bernapasnya lewat leher.

2. Edison Siahaan


Edison Siahaan (75 tahun) merokok sejak remaja sekitar usia 17 tahun. Ia termasuk perokok berat karena setidaknya 3 hingga 4 bungkus rokok ia hisap habis setiap hari. Sekitar 50 tahun ia menjadi pecandu rokok hingga akhirnya didiagnosis dokter menderita kanker laring (kotak suara) pada tahun 1995.

Kanker sebesar genggaman tangan bersarang di daerah lehernya, yang akhirnya harus dilakukan operasi pengangkatan pita suara. Operasi tersebut harus membuat Edison kehilangan pita suara yang berarti ia tak bisa bicara lagi. Yang lebih mengerikan, terdapat lubang sebesar ibu jari di lehernya, persis seperti gambar lubang di leher yang mengeluarkan asap rokok, yang terdapat di bungkus-bungkus rokok Amerika.

Ketika berbicara, suara Edison terdengar hilang timbul, terang saja karena suara yang ia hasilkan berasal dari saluran makan esofagus yang ia latih agar bisa mengeluarkan suara.

3. Zainudin

Zainudin

Zainudin (41 tahun), seorang laki-laki bersuara seperti robot asal Bogor hidup tanpa pita suara sejak tahun 1996. Hanya tersisa lubang kecil di lehernya karena tenggorokannya sudah diangkat setahun setelah didiagnosis menderita kanker pita suara kurang lebih 18 tahun yang lalu. Laki-laki ini bukan seorang perokok meski mengakui pada masa mudanya dulu pernah sekali dua kali mengisap rokok sekedar untuk bergaul.

Namun yang jelas ia mengakui, sejak kecil ia tinggal serumah dengan keluarga besarnya yang hampir semuanya merupakan perokok berat sehingga ia sendiri termasuk perokok pasif. Dampak dari asap rokok yang dihisapnya cukup berat, seperti yang dirasakannya saat ini.

Pada tahun 1996 ia didiagnosis kanker pita suara, lalu setahun kemudian harus menjalani operasi pengangkatan pita suara serta jakun dan hampir seluruh organ yang ada di lehernya.

Hidungnya sama sekali sudah tidak berfungsi, sebab keluar masuknya udara pernapasan kini bisa langsung melalui lubang di lehernya. Lubang ini juga berfungsi sebagai pengasil bunyi-bunyian, meski suaranya sangat bergetar dan tak semerdu suara yang keluar dari pita suara.

Jadi, apakah sekarang masih mau merokok?