Hujan Meteor Perseid, Fenomena Alam Pekan Ini

Bantu kami membuat situs ini menjadi lebih baik.

Dengan menonaktifkan AdBlock atau aplikasi-aplikasi sejenis yang mampu memblokir iklan, kamu sudah membantu kami untuk tetap membuat konten-konten di website ini terus update.

Untuk selengkapnya, baca artikel kami berikut ini: Suka Artikel Kami? Tolong Matikan AdBlock Anda Untuk Makintau

Pekan ini malam-malam kita akan diwarnai dengan fenomena-fenomena alam yang luar biasa. Karena, pekan ini akan terjadi fenomena hujan meteor Perseid. Hujan meteor ini puncaknya akan terjadi pada tanggal 9-14 Agustus 2014, bahkan untuk memperingati fenomena alam yang satu ini, Google Doodle juga menampilkan hujan meteor Perseid sebagai gambar pembuka di atas kotak pencarian mereka.

Perseid merupakan fenomena alam berupa hujan meteor yang sering dikaitkan dengan komet Swift-Tuttle. Dinamakan Perseid karena titik radian hujan meteor ini seolah-olah berasal dari arah rasi bintang Perseus. Meteor-meteor Perseid tersebut berasal dari serpihan debu ekor komet Swift-Tuttle (nama resmi: 109P/Swift-Tuttle) yang masuk ke atmosfer Bumi.

Hujan Meteor Perseid, Fenomena Alam Pekan Ini

Komet tersebut ditemukan pertama kali pada tahun 1862 dan mengelilingi matahari setiap 130 tahun sekali. Setiap pertengahan Juli hingga Agustus, Bumi melintasi orbitnya sehingga sisa material komet tadi tertarik oleh gravitasi bumi dan muncul sebagai hujan meteor.

Perseid tahun ini agak spesial sebab hampir bersamaan dengan fenomena Supermoon. Astrofisikawan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Thomas Djamaluddin mengatakan jika Hujan Meteor Perseid akan alami puncaknya pada tanggal 13 Agustus 2014.

Namun sayangnya, Perseid tidak bisa dinikmati secara maksimal. Ketika langit gelap, kata Thomas, puluhan Hujan Meteor setiap jamnya bisa dinikmati. Masyarakat di Indonesia sulit melihat pemandangan di langit malam karena di Indonesia, hujan meteor itu terjadi bertepatan dengan siang hari, yaitu sekitar pukul 13 WIB. Ketua Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin mengatakan sisa debu komet itu melintas pada saat langit terang.

Ia menerangkan debu jatuh disebut badai meteor jika bumi terdeteksi mendapat hujaman 1.000 meteor per jam. Sedangkan hujan meteor terjadi jika jumlah meteor yang jatuh hanya sekitar 100 meteor per jam.

Lapan akan merekam kedatangan debu sisa komet itu melalui radar meteor yang berada di Kota Tabang, Bukit Tinggi, Sumatera Barat dan Biak, Papua.