Derby Madrid di Final Liga Champions 2014

Bantu kami membuat situs ini menjadi lebih baik.

Dengan menonaktifkan AdBlock atau aplikasi-aplikasi sejenis yang mampu memblokir iklan, kamu sudah membantu kami untuk tetap membuat konten-konten di website ini terus update.

Untuk selengkapnya, baca artikel kami berikut ini: Suka Artikel Kami? Tolong Matikan AdBlock Anda Untuk Makintau

Dini hari nanti, 25/05/2014 akan tersaji laga panas yang mempertemukan dua klub dari negara dan kota yang sama yaitu Real Madrid vs Atletico Madrid. Laga ini merupakan laga puncak (final) dalam kompetisi paling bergengsi di eropa, yaitu UEFA Champions League.

Atletico dan Madrid akan berjuang untuk mendapatkan trofi Liga Champions di Estadio da Luz, Lisbon Minggu dini hari nanti. Pertandingan ini akan menjadi pertandingan yang bersejarah bagi kedua tim. Pasalnya, Atletico yang menginjakkan kaki di final UCL ini sangat bernafsu untuk mendapatkan gelar pertamanya di Liga Champions. Sementara Madrid yang pada musim ini mengincar gelar ke-10 mereka juga tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini.

Laga malam nanti juga merupakan laga derby pertama yang terjadi dalam sejarah Liga Champions yang mempertemukan dua tim sekota di final. Laga ini juga menjadi ajang duel dua tim yang bisa dibilang saling bertolak belakang hampir di semua aspek.

Jika Madrid selama ini dikenal sebagai tim kaya raya dan bertabur bintang, Atletico hanya dikenal sebagai tim semenjana alias pas-pasan. Saat pemain-pemain bintang kerap keluar masuk Santiago Bernabeu, Vicente Calderon lebih sering jadi sekadar batu loncatan untuk pemain-pemain berbakat.

Dengan membandingkan dua stadion tersebut pun sebenarnya tampak perbedaan yang mencolok. Jika Santiago Bernabeu terletak di kawasan bisnis dan perbankan berkelas, Vicente Calderon berada di wilayah pabrik pembuatan bir.

Soal gaya bermain di atas lapangan hijau, keduanya pun cukup berseberangan. Madrid yang berbekal pemain berkelas dunia menonjolkan teknik individu dan umpan-umpan yang 'seksi', sedangkan Atletico adalah tim yang tampil keras dan bermain sebagai satu sistem yang kompak.

Derby Madrid di Final Liga Champions 2014Yang paling kentara adalah soal trofi. Madrid setidaknya meraih 75 trofi di level teratas liga dan Eropa. Sedangkan Atletico tak sampai separuhnya, yakni 26 buah trofi sepanjang sejarahnya. Tak heran jika selama ini Los Blancos dianggap sebagai penguasa kota Madrid.

Menapaktilasi perjalanan rivalitas dua tim ini memang epik. Los Blancos dan Los Rojiblancos merupakan dua klub yang dipandang kontras. Kenapa? Sebab mereka memiliki identitas sekaligus nasib yang berbeda. Sekilas tiada beda dengan derby bergengsi macam derby Milan dan derby Manchester. Namun derby Madrid ini jauh lebih memiliki garis kemiringan bila menilik kesuksesan Real dibanding Atletico.

Sejarah persaingan

Secara historis, Real sudah lebih terdahulu dibentuk sebagai satu kesatuan klub, kendati tak pernah ada bukti perihal ini. Di sisi lain, Atletico lebih dikenal sebagai klub "sentimiento de rebeldia" - "gerakan pemberontakan". Perseteruan yang tadinya mengatasnamakan olahraga, kini lebih meluas lantaran di dalamnya terkontaminasi nuansa politis.

Sang diktator Francisco Franco menjadi dalang penting di balik memanasnya rivalitas Real dan Atletico di periode awal kepemimpinan dia di Spanyol.

Klub Atletico awalnya "dimanja" dan diakui sebagai sebuah tim di rezim Franco tersebut, bahkan mereka diasosiasikan dengan angkatan militer udara. Namun, Franco rupanya berrencana lain. Secara mengejutkan dia mempolitisasi Real. Si Putih dipersenjatai dengan modal untuk menaklukkan pentas sepakbola Eropa di tengah Spanyol yang ketika itu diisolasi dari kancah internasional menyusul anggapan bahwa negara tersebut menganut fasisme.

Sontak, kubu Atletico meradang. Mereka merasa dicampakkan. Franco dianggap berkhianat. Sejak saat itu, Los Rojiblancos tak henti-hentinya melantangkan nyanyian "Real el equipo del gobierno, la verguenza del pais", yang berarti "Real adalah tim milik pemerintah, sungguh memalukan negara".

Tensi di ibu kota Spanyol terus mendidih. Sejak El Real disokong pemerintah, klub yang identik dengan warna putih-putih ini mengelompokkan diri di kalangan orang-orang berstrata kelas atas. Tengok saja, stadion Santiago Bernabeu yang dibangun bersanding bersama bank-bank dan perusahaan bisnis berkelas di jalan Paseo de la Castellana.

Tak demikian bagi Atletico. Label "pemberontak" menjadikan mereka dekat dengan "wong cilik". Los Rojiblancos secara terus menerus mencari dukungan dari kaum buruh. Tak heran bila Estadio Vicente Calderon dapat ditemukan di dekat produsen bir sepanjang sungai Manzanares.

Pada perkembangannya, Real menarik dukungan lebih besar dari publik ibu kota berkat penampilan, manajemen dan kesuksesan yang lebih baik. Sedangkan Atletico menahbiskan diri sebagai tim yang berbasis masa kelas pekerja. Meski dalam sebuah jejak pendapat, fakta mengungkap Real memiliki fans dari kalangan kelas pekerja lebih banyak dibanding Atletico, tapi identitas sejarah tak pernah bisa dibantah, sampai hari ini.

Head To Head

Real Madrid HEAD-TO-HEAD
El Derbi Madrileno
Atletico Madrid

Main Real Menang Seri Atleti Menang Selisih Gol
La Liga 154 85 33 36 275-204
Copa del Rey 40 17 13 10 55-41
Campeonato Regional* 63 38 10 15 139-85
Copa de la Liga* 4 1 1 2 7-7
Liga Champions 3 2 0 1 4-3
Total 264 143 57 64 480-340
*) Ket.: Kompetisi telah ditiadakan
El Derbi Madrileno di Piala Champions
 Laga Skor Tempat
Semi-final leg I
1958/59
Atletico Madrid 1-0 Real Madrid
(Enrique Collar 43')
Santiago Bernabeu
Semi-final leg II
1958/59
Real Madrid 2-1 Atletico Madrid
(Hector Rial 15', Ferenc Puskas 33' pen.; Chuzo 13')
Metropolitano de Madrid
Play-off1958/59*
Real Madrid 2-1 Atletico Madrid
(Alfredo Di Stefano 16', Ferenc Puskas 42'; Enrique Collar 18')
La Romareda
*) Ket.: Kompetisi belum mengenal aturan gol tandang sehingga play-off digelar untuk menentukan pemenang

Bagaiman pun cerita perpecahan duo Madrid ini, yang diincar keduanya pada Sabtu besok adalah gengsi Eropa. Bahkan, gengsi untuk memproklamirkan diri sebagai tim terbaik dunia.

Sudah dua dekade lebih era Liga Champions berjalan dan sejarah mencatat "perang saudara" alias final senegara sebanyak empat kali: Real Madrid 3-0 Valencia (1999/00), Milan 0 [3]-[2] 0 Juventus (2002/03), Manchester United 1 [6]-[5] 1 Chelsea (2007/08), Bayern Munich 2-1 Borussia Dortmund (2012/13). Namun sekali lagi, partai pamungkas edisi tahun ini amatlah istimewa. Bagai takdir, duel satu negara, satu kota dengan latar belakang sejarah yang menarik, tersaji untuk pertama kalinya di akhir pekan ini.

El Real merupakan klub pengoleksi trofi Eropa paling banyak dan bertekad menggenapkan penantian 12 tahun tanpa juara dengan raihan "La Decima" - sebutan gelar kesepuluh di Liga Champions. Namun Atletico akan menyempurnakan musim mengejutkan mereka usai menjadi juara La Liga 2013/14 dengan mengangkangi Barcelona akhir pekan lalu dengan bersiap merajut satu musim emas dalam sejarah 111 tahun klub itu berdiri.

Satu hal yang pasti. Siapa pun yang keluar sebagai kampiun di laga ini, yang akan berpesta pora tetaplah bangsa Madrid.