Mitos Gunung Slamet yang Dapat Memisahkan Pulau Jawa

Bantu kami membuat situs ini menjadi lebih baik.

Dengan menonaktifkan AdBlock atau aplikasi-aplikasi sejenis yang mampu memblokir iklan, kamu sudah membantu kami untuk tetap membuat konten-konten di website ini terus update.

Untuk selengkapnya, baca artikel kami berikut ini: Suka Artikel Kami? Tolong Matikan AdBlock Anda Untuk Makintau

Gunung Slamet adalah gunung tertinggi di Jawa Tengah atau gunung tertinggi ke dua di Pulau Jawa adalah gunung berapi yang masih aktif yang terletak di perbatasan Kabupaten Brebes, Banyumas, Purbalingga, Kabupaten Tegal, dan Kabupaten Pemalang, Provinsi Jawa Tengah.

Tinggi gunung ini adalah 3.428 meter dpl atau hanya memiliki selisih kurang lebih 200 meter saja dari Gunung Tertinggi di pulau Jawa, Gunung Semeru.

Pemandangan dari Puncak Gunung Slamet
Pemandangan dari Puncak Gunung Slamet © muhsigbah.blogspot.com

Gunung Slamet memiliki empat kawah, saat ini kawah IV merupakan kawah terakhir yang masih aktif sampai sekarang, dan terakhir aktif hingga pada level waspada pada maret 2014.

Gunung Slamet cukup populer bagi pendaki gunung meskipun medannya dikenal sulit. Di kaki gunung ini terletak kawasan wisata Baturraden yang menjadi andalan Kabupaten Banyumas karena hanya berjarak sekitar 15 km dari Kota Purwokerto.

Sebagaimana gunung api lainnya di Pulau Jawa, Gunung Slamet terbentuk akibat subduksi Lempeng Indo-Australia pada Lempeng Eurasia di selatan Pulau Jawa. Retakan pada lempeng membuka jalur lava ke permukaan. Catatan letusan diketahui sejak abad ke-19. Gunung ini aktif dan sering mengalami erupsi skala kecil.

Erupsi Gunung Slamet tercatat pertama kali pada 1772. Sebelum itu, erupsi tidak tercatat. Saat meletus Perang Jawa yang dipimpin Pangeran Diponegoro, 53 tahun kemudian, Gunung Slamet kembali "batuk".

Berikut adalah tahun-tahun erupsi Gunung Slamet : 1772, 1825, 1835, 1847, 1849, 1860, 1875 (2 kali), 1885, 1890, 1904, 1923, 1926, 1927, 1928, 1929, 1930, 1932, 1933, 1934(?), 1937, 1939 (2x), 1940, 1943(?), 1944, 1948, 1951 (2 kali), 1953, 1955, 1957, 1958(2x), 1960-61, 1966, 1967 (Jun-Jul), 1969 (Jun-Agt), 1973 (Agt), 1974 (Mei), 1988 (Jul), 1999 (Mei-Sep), 2000 (Jul-Okt) (?), 2009 (April-Sep).

Sejarah Nama "Slamet"

Sejarawan Belanda, J. Noorduyn berteori bahwa nama "Slamet" adalah relatif baru, yaitu setelah masuknya Islam ke Jawa (kata itu merupakan pinjaman dari bahasa Arab yang memiliki arti "Selamat"). Ia mengemukakan pendapat bahwa yang disebut sebagai Gunung Agung dalam naskah berbahasa Sunda mengenai petualangan Bujangga Manik adalah Gunung Slamet, berdasarkan pemaparan lokasi yang disebutkan.

Berdasar cerita rakyat setempat, Syeh Maulana Maghribi-lah yang mengubah nama gunung itu menjadi Gunung Slamet. Ia adalah penyebar agama Islam dari negeri Rum, Turki. Saat ia melewati daerah Banjar, Maulana menderita sakit gatal di sekujur tubuh dan sulit disembuhkan.

Suatu malam setelah menjalankan salat tahajud, Maulana mendapat ilham bahwa ia harus pergi ke gunung di dekat daerah itu. Setiba di lereng gunung, ia menemukan sumber air panas yang mempunyai tujuh buah pancuran.

Syeh Maulana memutuskan tinggal di tempat itu untuk berobat dengan mandi secara teratur di sumber air panas yang memiliki tujuh buah mata air. Akhirnya ia sembuh. Kemudian Syeh Maulana memberi nama tempat itu Pancuran Tujuh. Karena Syeh Maulana mendapat kesembuhan penyakit gatal dan keselamatan di lereng gunung itu, ia mengganti nama menjadi Gunung Slamet. Namun, secara historis, kisah tersebut belum dapat dipastikan.

Mitos Tentang Gunung Slamet

Gunung Slamet dikenal sebagai salah satu pusat kegiatan spiritual Jawa, seperti Gunung Lawu. Banyak orang dari berbagai daerah datang ke Gunung Slamet untuk misi spiritual berdoa agar keinginan dan apa yang cita-citakan terkabul.

Mereka yang ingin melaksanakan kegiatan spiritual diwajibkan membawa persyaratan kembang dan kemenyan, selain itu pendaki harus bersama juru kunci. Jika tidak membawa persyaratan, pendaki akan melihat kejadian aneh, tapi tidak berbahaya.

Menurut informasi mereka yang datang ke Gunung Slamet bukan saja dari kalangan biasa. Ada pula kalangan pejabat. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan istrinya Ani Yudhoyono pada 21 Februari 2013 juga mengunjungi wilayah Gunung Slamet.

Konon, Gunung Slamet dihubungkan dengan penggantian presiden Indonesia. Presiden yang berkunjung ke daerah sekitar Gunung Slamet, tidak lama kekuasaannya berakhir. Sastoro, anggota DPR RI periode 1999-2004 yang berasal dari Tegal mengungkapkan bahwa Presiden Soekarno sekitar 1964 datang mampir ke Waduk Cacaban (di utara Gunung Slamet). Tidak lama setelah itu terjadi kekacauan 1965 dan Soekarno tumbang.

Serupa hal itu, yakni Gus Dur sehabis berkunjung ke pesantren temannya di Tegal tak lama kemudian lengser. Megawati tanggal 4 Juli 2004 meresmikan TPI di Tegal, setelah itu kalah pilpres.

Spiritualis Ki Joko Bodo juga bercerita, tujuan spiritual dari kunjungan SBY ke Gunung Slamet, justru akan membawa malapetaka bagi SBY. Menurutnya Presiden Soeharto sesaat sebelum lengser juga melakukan kunjungan ke Gunung Slamet.

Menurut cerita orang tua Gunung Slamet memang sedikit berbeda dengan gunung lain di tanah Jawa, gunung Slamet memang bukan gunung biasa didaki hanya untuk tujuan wisata atau rekrasi, hobi atau sekdear ingin menaklukannya. Pendakian ke puncak gunung Slamet biasanya ditujukan untuk tujuan khusus, misalnya karena ada alasan spiritual. Oleh karena itu para harus melengkapi syarat-syaratnya terlebih dahulu.

Menurut cerita, "slamet" dalam bahasa Indonesia artinya "selamat". Setidaknya sejak jaman kakek moyang hingga sekarang Gunung Slamet jarang sekali bahkan tidak pernah "batuk-batuk" apalagi "muntah-muntah". Keberadaan gunung yang memberikan rasa aman dan tenang selama ini seakan memberikan "keselamatan" bagi masyarakat di sekitarnya.

Meski hanya cerita mitos, namun akibat yang dibayangkan sungguh mengerikan. Mitos menceritakan apabila gunung Slamet meletus, maka letusannya diprediksi akan bisa "membelah" pulau jawa menjadi dua bagian. Entah itu karena timbulnya rekahan besar yang membentang dari utara ke selatan (dan air laut mengalir masuk hingga menyatu) atau karena masing-masing wilayah di barat dan timur bergeser saling menjauh.

Letaknya yang hampir tepat ditengah-tengah antara batas pantai utara dan pantai selatan, serta dikelilingi setidaknya 5 wilayah kabupaten yang berbatasan langsung (Brebes, Tegal, Pemalang, Banyumas, Purbalingga) dan 2 wilayah yang tidak langsung (Kab. Cilacap, Kota Tegal) dimana jika kita lihat di peta akan membentuk suatu garis lurus yang membelah pulau Jawa jika letusan besar itu benar-benar terjadi.

Ilustrasi Letusan Krakatau
Ilustrasi Letusan Krakatau
Tentu kita masih mengingat atau tahu tentang sejarah meletusnya gunung Krakatau yang terletak di selat Sunda pada tanggal 26-27 Agustus 1883 silam. Para ahli memperkirakan, jauh sebelum ledakan tahun 1883, Gunung Krakatau Purba dengan ketinggian 2.000 meter dan diameter pantainya mencapai 11 km meletus tidak kalah hebat dengan letusan 1883. Bahkan letusan inilah yang memisahkan Pulau Sumatera dan Pulau Jawa.

Pada letusan tahun 1883 Gunung Krakatau yang hanya memiliki ketinggian 813 meter itu meletus dahsyat. Letusan itu sangat dahsyat, hingga awan panas dan tsunami yang diakibatkannya menewaskan sekitar 36.000 jiwa. Suara letusan itu terdengar sampai di Alice Springs, Australia dan Pulau Rodrigues dekat Afrika, 4.653 kilometer. Daya ledaknya diperkirakan mencapai 30.000 kali bom atom yang diledakkan di Hiroshima dan Nagasaki di akhir Perang Dunia II.

Bahkan Letusan Krakatau menyebabkan perubahan iklim global. Dunia sempat gelap selama dua setengah hari akibat debu vulkanis yang menutupi atmosfer. Matahari bersinar redup sampai setahun berikutnya. Hamburan debu tampak di langit Norwegia hingga New York. Kejadian itu terjadi karena disebabkan karena sebuah gunung yang hanya memiliki tinggi 813 meter saja. Tidak di bayangkan apa yang akan terjadi apapbila Gunung Slamet benar-benar meletus dengan letusan Dahsyat seperti yang terjadi pada Gunung Krakatau (Rakata) pada masa dulu.

Tak terbayangkan akibatnya apabila memang akhirnya Gunung Slamet benar-benar meletus apalagi dengan letusan yang sangat besar, semua wilayah tersebut masuk dalam jangkuan semburan (minimal debu atau awan panas). Meski mitos ini tidak (belum) terbukti, namun bisa dipastikan Pulau Jawa akan lumpuh. Jalur Pantura akan tersendat, jalur selatan tak bisa digunakan dan jalur tengah akan lumpuh total. Sungguh mengerikan.